Mengelola Sukacita Dengan Bijak Pancaran Air Hidup 30 Juli 2025

30 July 2025

Bacaan: Ester 7 : 7 – 8 : 17  |  Pujian: KJ. 379
Nats: “Kemudian Ester berkata lagi kepada raja sambil sujud pada kakinya dan menangis. Ia memohon belas kasihan raja untuk membatalkan maksud jahat Haman , orang Agag  itu, serta rancangan yang sudah dibuatnya terhadap orang Yahudi.” (8:3)

Di hampir seluruh daerah Malang Selatan, festival “Sound Horeg” menjadi ajang hiburan yang dinanti-nanti. Dentuman musik yang menggelegar membawa semangat bagi sebagian orang, terutama anak muda, sementara bagi yang lain, hal ini dirasakan sebagai gangguan. Festival ini menjadi ruang ekspresi bagi banyak pihak, tetapi juga menimbulkan berbagai tanggapan dari masyarakat, tergantung pada cara penyelenggaraannya. Jika dikelola dengan baik, festival ini bisa menjadi wadah kebersamaan dan kreativitas, tetapi jika tidak, bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi lingkungan sekitar.

Kisah Ester menggambarkan pergolakan antara kebencian dan keadilan, antara ketakutan dan sukacita. Haman yang penuh kelicikan dan dendam, ingin membinasakan Mordekhai dan bangsa Yahudi. Namun, melalui campur tangan Tuhan, rencana jahat itu berbalik: Haman sendiri yang dihukum, sementara bangsa Yahudi mengalami kelegaan dan kemenangan. Dalam pasal 8, sukacita besar terjadi ketika dekrit baru dikeluarkan yang memberi mereka kesempatan membela diri. Apa yang semula menjadi ancaman berubah menjadi berkat dan kegembiraan besar bagi bangsa Israel.

Dalam suasana bulan keluarga, kita diajak untuk merenungkan bagaimana mengelola sukacita dengan bijak. Seperti “Sound Horeg”, kebahagiaan dalam keluarga bisa menjadi berkat atau bencana tergantung pada bagaimana kita menjalaninya. Apakah kita membangun keluarga kita dengan komunikasi yang sehat, saling menguatkan, dan menciptakan lingkungan yang penuh kasih? Ataukah justru ego, kesalahpahaman, dan dendam mengikis kebersamaan kita dalam keluarga? Kita harus ingat bahwa keluarga adalah tempat pertama untuk belajar mencintai dan menghargai satu sama lain. Ester mengajarkan bahwa Tuhan sanggup mengubah situasi buruk menjadi sukacita. Karena itu, keluarga Kristen dipanggil untuk hidup dalam terang kasih Tuhan, menjadikan rumah sebagai tempat perlindungan, bukan perpecahan. Mari kita belajar dari kisah Ester yang berdoa, bertindak dengan hikmat, dan percaya bahwa Tuhanlah yang memegang kendali atas kehidupan kita. Dengan demikian, kita dapat merasakan sukacita sejati, sukacita yang tidak tergantung pada keadaan, tetapi mengandalkan iman kepada Tuhan Yesus Sang Kepala Keluarga. Amin. [yopi].

“Sukacita sejati takkan sirna, sebab mengandalkan Yesus Sang Sempurna.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak