Menolak Biasa, Memilih Menjaga Pancaran Air Hidup 30 Januari 2026

30 January 2026

Bacaan: 1 Timotius 5 : 17 – 24  |  Pujian: KJ. 63
Nats: “Dosa beberapa orang sangat jelas dan mendahului mereka ke penghakiman, tetapi dosa beberapa orang lagi baru menjadi nyata kemudian.(Ayat 24)

Beberapa waktu lalu, saat pulang ke rumah, ingatan saya langsung tertuju pada tempat yang dulu sangat akrab – sungai kecil di belakang rumah. Dahulu, suasananya dipenuhi suara tawa. Bersama teman-teman, saya sering bermain air, menangkap ikan kecil, atau sekadar duduk di atas batu sambil merendam kaki. Airnya jernih, mengalir tenang, dan membawa kesegaran. Namun kali ini, sungai itu tampak berbeda. Airnya keruh, busa sabun mengambang, sampah plastik tersangkut di pinggiran, dan bau tidak sedap tercium dari kejauhan. Tidak ada lagi anak-anak bermain, tidak ada lagi ikan berenang. Semua berubah. Sungai yang dulu jadi bagian dari kehidupan, kini tampak seperti tempat yang ditinggalkan dan dilupakan. Sedikit demi sedikit, tanpa disadari, sungai mulai kehilangan kehidupannya, karena perhatian manusia perlahan menghilang.

Surat 1 Timotius 5:17–24 ditujukan untuk membentuk kehidupan jemaat yang sehat dan adil, namun dibalik nasihat tentang tanggung jawab, integritas, dan kehati-hatian itu, ada gema prinsip “ekologis” yang mendalam, “Apa yang tersembunyi hari ini, akan menampakkan dampaknya kelak.” Sesuatu yang perlahan muncul ke permukaan, demikian juga kerusakan lingkungan yang lahir dari ketidakpedulian hari ini akan menuntut balas di masa depan. Paulus tidak hanya berbicara tentang etika kepemimpinan, tetapi juga tentang bagaimana hidup bersama harus dijalani dengan pertimbangan mendalam dan kesetiaan tersembunyi.

Dalam bingkai Bulan Penciptaan saat ini, tersirat ajakan untuk menjadi penjaga lingkungan yang menyadari bahwa setiap tindakan meninggalkan jejak. Tidak semua akibat muncul seketika, namun seluruh jejak akan terakumulasi dalam keseimbangan ciptaan. Ekologi bukan sekadar urusan alam, melainkan juga persoalan tanggung jawab iman. Sungai yang terus mengalir mungkin tak memiliki suara, namun manusia diberi akal dan hati untuk memilih. Ada pilihan untuk tidak melukai, untuk meninggalkan jejak yang menghidupkan alih-alih menghancurkan. Sebab Tuhan melihat seluruh kehidupan yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan di setiap keputusan kecil yang kita ambil, tersimpan jawaban atas panggilan besar: “kita dipanggil untuk merawat keutuhan ciptaan.” Amin. [vena].

“Ecological collapse is not just about nature. It’s about the collapse of human ethics.” (Pope Francis)

Renungan Harian

Renungan Harian Anak