Bacaan: Lukas 4: 21 –30 | Pujian: KJ. 222b
Nats: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” (Ayat 24)
Saat kita melihat ada orang baru muncul di hadapan kita, respon kita adalah bertanya. Bertanya dalam hati kita sendiri atau langsung bertanya kepada orang tersebut. Selalu ada respon yang terlihat di saat ada orang baru muncul di hadapan kita. Apakah kepentingannya sehingga dia datang? Ini adalah respon yang wajar, yang sering kita jumpai. Ada orang yang dengan luwesnya menerima orang yang baru dikenal, tetapi juga ada orang yang merasa terancam karena hadirnya orang baru tersebut.
Pada bacaan saat ini, kita mengetahui respon orang-orang Nasaret saat mereka melihat Yesus sebagai sosok yang “baru”. Mereka akhirnya tidak hanya melihat Yesus sebagai anak Yusuf saja, tetapi Yesus yang menyatakan diri–Nya sebagai Sang Mesias. Pada awalnya mereka kagum dengan kemampuan Yesus saat berkhotbah. Mereka menyadari ada kuasa dalam setiap perkataan dan pengajaran Yesus, namun mereka meragukan kemesiasan-Nya. Alasannya, mereka mengetahui Yesus adalah anak Yusuf. Itulah sebabnya mereka menuntut Yesus melakukan perbuatan hebat lagi agar keraguan mereka sirna. Bukannya memenuhi harapan mereka, Yesus malah menegur mereka. Bagi Yesus, mereka sama seperti orang Israel pada zaman Elia dan Elisa yang penuh keraguan. Akibatnya, mereka pun marah karena teguran itu dan hendak membunuh-Nya. Benarlah kata Yesus, “…sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.“ Dalam catatan Alkitab, inilah kali terakhir Yesus pulang ke kampung halaman-Nya.
Orang-orang Nazaret enggan mengakui Yesus sebagai Mesias. Pasalnya, mereka mengenal Yesus sebatas sebagai anak Yusuf. Meskipun mereka menyadari kuasa Yesus, tetapi mereka mengabaikannya. Bahkan, mereka ingin mendikte Yesus agar melakukan seperti apa yang mereka mau. Terkadang kita juga berlaku demikian, bukan? Kita menjadikan Yesus sesuai kehendak dan imajinasi kita. Kita mau mengenal-Nya hanya sebatas keinginan kita. Kita bertindak seolah-olah lebih besar daripada Dia. Jika saat ini kita bersikap demikian, mari bertobat! Mari kita merendahkan diri kita di hadapan Sang Mesias. Amin. [Zere].
“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia Kristus dan dalam pengenalan akan Kristus.”