Siapa Saya dan Siapa Saudara-Saudara Saya? Renungan Harian 29 Desember 2017

Bacaan : Matius 12 : 46 – 50 | Pujian: KJ 448 : 1 – 4
Nats: “Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: ‘Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?’” [ayat 48]

Apa yang sempat anda saksikan paling menonjol di layar TV, ketika kita (bangsa Indonesia) memperingati Hari Lahirnya Pancasila pada hari Kamis 01 Juni 2017 yang lalu? Saya menyaksikan bahwa hal yang paling berkesan dan menonjol adalah ketika Presiden RI, bapak Joko Widodo mengajak untuk menyatakan statement (pernyataan) dan komitmen: ‘Saya Indonesia’, ‘Saya Pancasila’, dan kemudian hari diikuti oleh berbagai pihak dengan mengatakan: ‘Saya NKRI’, ‘Saya Bhineka Tunggal Ika’, dst. Untuk dapat mewujudkan statement dan komitmen tersebut, dibutuhkan kesadaran utuh sebagai makhluk ciptaan Allah yang ditempatkan di bumi nusantara ini.

Manusia diciptakan oleh Tuhan Allah sebagai makhluk sosial, artinya tidak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa pertolongan sesama dan lingkungannya. Apabila kita ingin mengeksplorasi diri, menumbuhkan, dan mengembangkan diri sebagai seorang manusia, maka kita harus berhubungan dan bersosialisasi dengan sesama kita manusia. Kita harus menjadi pribadi yang terbuka agar kita dapat berperan positif secara optimal dalam berinteraksi dengan Allah, sesama, dan lingkungan kita.

Tuhan Yesus tidak menyangkal atau mengingkari tanggungjawab-Nya bagi keluarga duniawi-Nya, yakni bagi ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Bahkan Ia mengkritik para pemimpin agama Yahudi sebab mereka tidak mengikuti hukum Perjanjian Lama yang memerintahkan untuk menghormati orangtua mereka (15:1-9). Ia memberikan rasa hormat dan tempat istimewa bagi ibu-Nya, sebagaimana yang Ia ucapkan ketika Ia disalib (Yoh.19:25-27). Ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya hadir di ruang yang sama dengan para murid-Nya ketika peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul 1:14). Tuhan Yesus menunjuk bahwa hubungan spiritual menjadi sarana dibangunnya ikatan fisik, dan Tuhan Yesus merupakan jalan bagi terwujudnya sebuah komunitas baru, komunitas para orang percaya (gereja universal), keluarga spiritual kita. Amin. [Esha]

“Alangkah indahnya serikat beriman!”

 

Bagikan Entri Ini: