Kegelapan Masih Ada Pancaran Air Hidup 28 Juni 2022

Bacaan: Efesus 5 : 6 – 21 ǀ Pujian: KJ 369a
Nats:
“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.” (Ayat 8).

Mengendarai kendaraan bermotor di ruas jalan yang lebar, seperti halnya rute Jalan Lintas Selatan (JLS) dari Sendangbiru ke Bale Kambang di bagian selatan Malang, ternyata memberikan makna bahwa manusia bisa mengabaikan keselamatan diri. Memperkencang laju kendaraan dan melanggar marka jalan hingga berada di jalur berlawanan adalah hal yang sering terjadi. Jika berlangsung aman-aman saja, maka kecenderungan mengulangi juga semakin besar. Padahal pelanggaran aturan membuat kemungkinan terjadinya kecelakaan semakin besar. Sedikit banyak, hal ini mengingatkan kita pada kehidupan iman kita yang juga seringkali abai dan melanggar batasan hanya karena ingin menikmati hidup dengan versi kita sendiri.  

Paulus dalam suratnya memberikan gambaran dua suasana yang harus dicermati oleh jemaat di Efesus. Yaitu suasana sebagai anak-anak terang, yang dulu pernah mengalami suasana kegelapan. Terang identik dengan: penurut Allah, hidup dalam kasih, anak terang, mengucap syukur, melakukan kebaikan, keadilan, kebenaran, orang arif, penuh dengan roh, berkata dalam mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohani, bernyanyi, bersorak dan merendahkan diri kepada yang lain. Sedangkan kegelapan diidentikkan dengan percabulan, rupa-rupa kecemaran, keserakahan, perkataan kotor, kosong, orang sundal, orang cemar, orang serakah, penyembah berhala, kata hampa, orang bebal, mabuk oleh anggur dan hawa nafsu. Berikutnya, Paulus menyatakan hal yang berkaitan kegelapan, jangan sekalipun “disebut” (ay. 3) atau “menyebutkan” (ay. 12).

Inilah salah satu cara dari Paulus untuk menegaskan garis batas pemisah antara terang dengan gelap, agar kita tidak melanggarnya. Tujuannya, menempatkan posisi diri sehingga tetap berada dalam keselamatan. Sebab di sisi lain, harus kita akui bahwa manusia seringkali cenderung mencari hal-hal yang menyenangkan diri sendiri, permisif, mengulangi kesalahan dan mudah berdekatan dengan kegelapan walaupun tahu hal itu membahayakan dirinya. Karenanya diiperlukan sikap tegas dan disiplin diri secara konsisten agar kita tidak tercampur kembali dengan kegelapan. Jadi, jika ada pertanyaan, “Sebutkan cara hidup sebagai anak-anak terang?” Apa jawaban kita? Jawaban kita merupakan cara kita menghayati Bulan Kespel pada tahun ini. Kiranya kita senantiasa hidup di dalam terang Kristus. Amin. [WdK].

“Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu.” (Kej. 4:7)

 

Bagikan Entri Ini: