Bacaan: Titus 1 : 5 – 16 | Pujian: KJ. 447
Nats: “Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur …” (Ayat 5a)
Dr. Jan Hendriks, seorang ahli pembangunan jemaat dan penulis buku Jemaat Vital dan Menarik menyatakan bahwa untuk menjadikan jemaat vital dan menarik, dibutuhkan lima faktor, yaitu: Identitas, Tugas, Struktur, Iklim, dan Kepemimpinan. Salah satu faktor yang harus dipenuhi adalah iklim yang positif. Hal ini ditandai dengan adanya partisipasi aktif dari setiap warga jemaatnya. Partisipasi itu dapat diwujudkan dalam mengambil peran dalam perumusan serta pelaksanaan kebijakan. Artinya semua warga jemaat adalah subjek yang diperhatikan untuk membangun jemaat. Segala kekayaan dan keberagaman dari setiap warga jemaat menjadi berkat Tuhan yang digali dan dikelola. Namun akan menjadi suatu keprihatinan, jika dalam persekutuan zaman ini, keterlibatan kaum muda mengalami penurunan yang cukup signifikan, baik secara kuantitas dan kualitas.
Untuk menjadikan suatu persekutuan menjadi vital dan menarik, rasul Paulus mengupayakan suatu langkah untuk kehidupan umat percaya di Kreta. Ia mengirimkan surat penggembalaan kepada Jemaat di sana yang membahas tentang peraturan gereja dan pelayanannya. Dalam hal ini, Rasul Paulus menyampaikan persyaratan penetapan penatua untuk menjalankan jemaat dengan baik. Paulus menyampaikan melalui suratnya beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai penilik jemaat. Hal ini menjadi tugas yang harus dilakukan Titus, yaitu melakukan pekerjaan Allah di Kreta sebagai rekan kerja Paulus.
Kemauan Titus terlibat dan berpartisipasi dalam karya Allah menjadi hal yang kita sorot dalam perenungan ini. Terlebih keterlibatan pemuda sebagai penerus masa depan gereja. Partisipasi aktif pemuda menjadi hal yang sangat penting untuk menjawab kebutuhan zaman atas keberadaan gereja yang terus tumbuh dan hidup. Keberadaan pemuda dinantikan untuk terlibat dalam merumuskan kebijakan dan melakukan pelayanan demi pertumbuhan jemaat yang lebih baik. Gereja tidak lagi menjadi organisasi yang kaku dan otoriter, tetapi menjadi rumah yang nyaman untuk ditinggali setiap organismenya. Jika semua bisa berpartisipasi aktif dengan sukacita, gereja akan menjadi rumah yang potensial untuk bisa saling memperkembangkan iman dan hidup. Mari kita memberikan diri untuk terlibat dalam pekerjaan Allah, khususnya bagi setiap generasi penerus gereja demi mewujudkan karya-Nya yang agung bagi kehidupan. Amin. [edw].
“Mari bersama mengusahakan ‘rumah’ yang vital dan menarik untuk kehidupan yang lebih baik.”