Bacaan : Yeremia 14 : 1 – 6| Pujian : KJ. 432 : 1
Nats: “Yehuda berkabung, pintu-pintu gerbangnya rebah dan dengan sedih, terhantar di tanah, jeritan Yerusalem naik ke atas.” (Ay. 2)
Indonesia dikenal sebagai Negara yang rawan bencana alam. Di tahun 2018 yang lalu tercatat lebih dari 430 bencana alam, seperti gempa bumi, erupsi gunung berapi, sunami, banjir bandang, kekeringan, longsor dan lain sebagainya. Bencana alam tersebut sering mengakibatkan banyaknya korban jiwa dan harta benda. Keadaan yang demikian sering mengundang empati masyarakat untuk memberikan bantuan ataupun pertolongan, dengan maksud untuk meringankan beban masyarakat yang terkena bencana. Dengan tergeraknya masyarakat untuk peduli terhadap sesama yang mengalami musibah, menandakan bahwa nilai kemanusian menjadi berarti. Selayaknya hal ini mendapatkan apresiasi, karena mereka berempati terhadap sesama. Perasaan empati, merupakan perasaan ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dan perasaan tersebut keluar dengan sendirinya dari lubuk hati yang dalam, dan perasaan ini memupuk kepekaan kita terhadap penderitaan yang dialami sesama.
Pada masa pelayanan nabi Yeremia, daerah Yehuda mengalami bencana yang hebat, sampai dikatakan bahwa Yehuda berkabung. Ada jeritan yang cukup memilukan, sebagai dampak atas bencana kekeringan yang melanda. Perlu diakui bahwa bencana yang melanda Yehuda sebagai akibat dari ketidaksetiaan mereka terhadap TUHAN. (ay.7). Mereka cenderung bertindak semau gue. Sebagai pencerminan keangkuhan, keegoisan mereka, lingkungan alam mengalami kerusakan, yang mengakibatkan bencana kekeringan. Semestinya masyarakat Yehuda menyadari bahwa sebagai umat Tuhan tidak boleh lepas tanggungjawab terhadap keharmonisan hubungan dengan Tuhan, dengan ciptaan-Nya, alam dan sesama makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Umat Tuhan perlu belajar membangun keharmonisan dengan lingkunagn hidup, bukan sebaliknya dengan bertindak semau gue. Apa yang perlu dilakukan untuk menjaga keharmonisan dengan lingkungan hidup dan sesama? Jawabannya adalah dengan mengembangkan sikap empati, dengan empati berarti umat Tuhan bersedia care (peduli) terhadap sesama, dan makhluk hidup lainnya.
Bencana kekeringan yang pernah terjadi di Yehuda, juga di lingkungan kita, di negeri kita, menjadi pelajaran bersama untuk mengembangkan sikap empati terhadap alam semesta dan sesama yang mengalami penderitaan, semoga bersemangat untuk empati. (YK)
“Apa arti iman kepada Tuhan, jika kepedulian dan kepekaan tidak dipupuk”