Menentukan Langkah Renungan Harian 26 Februari 2021

Bacaan : Kejadian 16 : 1 – 6 | Pujian : KJ. 460 : 1, 2
Nats:
“Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, Tuhan tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.” (Ay. 2)

Saat berada di persimpangan, kadang kita bingung harus melangkah ke mana. Jika salah arah, kita bisa tersesat dan tidak sampai di tujuan. Dalam hidup ini, kitapun seringkali didera pergumulan yang membuat tertekan dan putus asa. Seolah sedang ada di persimpangan dan kita tidak tahu harus melangkah ke mana. Sebagian orang mengambil keputusan dengan mengandalkan akal pikiran manusia, bahkan pertolongan di luar Tuhan. Ada pula yang menggunakan pedoman umum tanpa menimbang apakah cara itu sesuai dengan nilai-nilai kristiani atau tidak. Sehingga keputusan yang diambil seringkali tidak sesuai dengan kehendak Allah. Akibatnya, bukannya menyelesaikan masalah, keputusan itu justru melahirkan persoalan-persoalan baru yang semakin rumit.

Kebiasaan hukum Mesopotamia kala itu, seorang istri yang mandul boleh memberikan hambanya kepada suaminya agar mendapatkan anak. Secara hukum, anak itu akan diakui sebagai anaknya. Maka wajar jika Sarai memutuskan untuk memberikan Hagar, hambanya, kepada Abram supaya dapat melahirkan anak baginya. Alih-alih menyelesaikan masalah, keputusan mereka justru menimbulkan persoalan-persoalan lain. Kesombongan Hagar, kecemburuan Sarai dan sikap pasif Abram menjadikan permasalahan semakin rumit. Cara Sarai menyelesaikan persoalan dengan hikmat manusia ternyata bukanlah cara Allah untuk menghadirkan keturunan baginya.

Semakin banyak pergumulan, kita semakin perlu belajar melihatnya sebagai proses beriman. Bukan bertindak berdasarkan pertimbangan manusiawi, melainkan mengandalkan hikmat Allah. Firman Tuhan menjadi pedomannya. Akal budi dan hati disinergikan untuk merenungkan dan mempertimbangkan segala sesuatu secara mendalam. Seperti meleram air keruh untuk memisahkan endapannya agar menjadi bening. Kebeningan kita dalam menyikapi persoalan akan melahirkan keputusan yang benar pada saat yang tepat. Tentu semua hanya mungkin dilakukan bila Tuhan yang menolong. (wdp)

“Menanti keputusan Tuhan dan mengikuti proses-Nya mungkin memang berat. Namun lebih berat jika harus menanggung akibat dari keputusan yang salah.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •