Mengandalkan Tuhan Pancaran Air Hidup 24 Juni 2022

Bacaan: 2 Raja-raja 1 : 1 – 17 ǀ Pujian: KJ. 396
Nats:
“Apakah tidak ada Allah di Israel, sehingga kamu ini pergi untuk meminta petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron?” (Ayat 3b).

Mengandalkan Tuhan adalah ciri utama orang yang sungguh-sungguh beriman. Mengapa demikian? Karena manusia memiliki keterbatasan. Orang beriman mesti menata hidupnya bersama Tuhan. Berbeda yang dilakukan oleh Raja Ahazia. Ia adalah putra dan pengganti Ahab. Arti nama Ahazia adalah Tuhan telah menggenggam. Akan tetapi, namanya tidak sesuai dengan wataknya sebab pengaruh ibunya, Izebel yang sangat kuat. Ahazia melakukan apa yang jahat dimata Tuhan. Sebagaimana dikisahkan pada ayat 2, Ahazia sakit karena jatuh dari kisi-kisi kamar atas istananya. Sebab itu, Ahazia berniat mencari kesembuhan kepada Baal-Zebub, dewa orang Filistin. Tentu ini ironis sekali, karena sebagai Raja Israel ia tidak mencari Allah untuk kesembuhannya, sehingga Allah memerintahkan Elia untuk menanyakan kepada utusan-utusan raja yang ke Ekron, “Apakah tidak ada Allah di Israel, sehingga kamu ini pergi untuk meminta petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron?” (ay. 3). Lalu Elia menyampaikan bahwa Ahazia akan mati karena penyakitnya ini. Tidak ada pertolongan baginya karena ia dengan sengaja telah mencari pertolongan di luar kuasa Allah untuk kesembuhan penyakitnya. 

Setelah mendengar seruan yang dikatakan oleh Elia kepada utusannya, Ahazia tidak segera berbenah diri. Ia justru menyuruh seorang perwira dan tentaranya untuk memanggil Elia. Atas nama raja, si perwira ini menyuruh Elia untuk turun dari puncak bukit. Karena keangkuhannya maka Tuhan mengirimkan api untuk menghanguskan mereka. Ahazia mengirimkan lagi seorang perwira beserta tentaranya dengan sifat angkuh yang sama. Kembali Tuhan menghanguskan mereka. Perwira ketiga yang dikirimkan Ahazia tampaknya lebih mengerti sehingga ia datang ke Elia dengan kerendahan hati. Mungkin ia sudah mendengar kisah tragis dari kedua perwira sebelumnya. Elia merespon baik kedatangan perwira yang ketiga ini. Akhirnya, Elia datang ke istana raja Ahazia dan menyampaikan nubuat kematiannya. Kematian Ahazia tidak terhindarkan lagi karena ia sudah tidak mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya.

Kisah raja Ahazia menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa hidup dalam pimpinan dan penyertaan Tuhan saja. Dalam setiap hal yang terjadi, dalam kesulitan, sakit penyakit, pergumulan hendaknya kita tidak melupakan Tuhan. Mari kita selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap perjalanan hidup kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memuliakan nama-Nya. Amin. [RA]

“Tak satupun yang yang selalu tidak mungkin bagi Allah jika kita mengandalkan-Nya.”

 

Bagikan Entri Ini: