Bacaan: Efesus 2 : 11-22 | Pujian: KJ. 259:1-3
Nats: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dang anggota-anggota keluarga Allah,…”(ayat 19)
Di Jerman pernah ada tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur. Di Cina ada “The Great Wall of China” yang melindungi bangsa Cina dari serbuan bangsa-bangsa asing. Di lingkungan sekitar kita ada pagar tembok tinggi sebagai bentuk pengaman dari tindakan kejahatan. Mengapa tembok-tembok itu mesti ada? Karena orang memiliki perasaan dan pikiran “berbeda” tentang sesamanya.
Jemaat Efesus sedang menghadapi perpecahan karena ada dua kelompok dalam jemaat. Jemaat dengan latar belakang Yahudi dan non-Yahudi. Bagi jemaat Kristen yang masih baru ini, perbedaan asal-usul menjadi benih perpecahan. Ada Kelompok yang berpikir memiliki status lebih tinggi dari kelompok lain karena mereka adalah bangsa yang dipilih oleh Allah. Ke-Yahudi-an dan ke-non-Yahudian ditandai dengan sunat, sehingga tanda sunat menjadi tembok pemisah bagi Jemaat Efesus dalam meneruskan misi damai sejahtera Kristus.
Rasul Paulus mengingatkan bahwa Kristus telah menghancurkan tembok pemisah melalui kematian-Nya di kayu salib. Kematian-Nya menghapus ketentuan-ketentuan Taurat, termasuk ketentuan tentang sunat. Kematian-Nya meniadakan segala pembatas. Baik yang Yahudi maupun non-Yahudi semuanya menjadi anggota keluarga Allah. Rasa persatuan dalam keluarga Allah ini penting dalam mewujudkan diri sebagai Bait Allah yang kudus, yang menularkan damai sejahtera kepada yang lain.
Wejangan Rasul ini menohok umat percaya. Konsep diri yang berlebihan bisa membatasi ruang gerak dalam membangun hidup bersama yang penuh kedamaian. Bagaimana mungkin bisa bekerjasama, jika kita masih menganggap rekan kerja kita “gak level”? Perbedaan tidak bisa dihindari dan akan senantiasa ada sepanjang kehidupan manusia. Namun mestinya bukan menjadi masalah, to? Sepanjang kita mau mengakui bahwa perbedaan itu ada, tidak ngotot menyeragamkan,terus belajar membangun pikiran positif bahwa dihadapan Tuhan semua nya pasti berharga. Maka, yakinlah kehidupan bersama akan berjalan mulus. Amin. (Co)
“Sebuah kekuatan yang besar akan tercipta saat kita berhasil menyatukan sesuatu yang berbeda, bukan saat menyatukan sesuatu yang sama.”