Bacaan : Kisah Para Rasul 3 : 17 – 26 | Pujian : KJ. 26 : 1, 2
Nats: ”Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.” (Ayat 19)
Pada suatu hari Mukidi mengikuti acara seminar di sebuah hotel di Surabaya. Saat pulang dari acara seminar tanpa sadar ia telah salah arah. Di sebuah pertigaan, seharusnya dia belok kanan untuk kembali ke Malang tetapi ia malah belok kiri. Setelah lebih dari setengah jam memacu sepeda motor, Mukidi baru tersadar kalau ia sudah salah arah. Di tengah perjalanan kembali ke arah yang benar, Mukidi merenungkan kejadian tersebut : “Begitulah yang terjadi kalau orang tidak segera bertobat ketika melakukan dosa. Semakin lama ia “salah arah” dan tidak segera bertobat, semakin sulit baginya untuk kembali kepada Tuhan.”
Petrus adalah murid Tuhan Yesus yang sering mengalami kegagalan dalam mengiring Tuhan Yesus dan puncak kegagalan Petrus adalah saat dia menyangkal Tuhan Yesus tiga kali. Petrus yang adalah murid yang paling dekat dengan Tuhan Yesus, justru telah berbuat dosa terhadap Tuhan Yesus. Namun setelah peritiwa itu, Petrus segera sadar akan dosanya, ia menyesali dosanya dan mau bertobat. Petrus kembali kepada Tuhan Yesus, sehingga dosanya diampuni dan hidupnya diperbaharui.
Ketika banyak orang terheran-heran melihat kesembuhan si Lumpuh, Petrus menggunakan kesempatan itu untuk bersaksi tentang Yesus Kristus. Kesembuhan itu terjadi bukan karena kehebatan Petrus, melainkan oleh kuasa Yesus Kristus yang telah mereka tolak dan mereka bunuh. Petrus mengajak mereka untuk menyadari kesalahan mereka dan bertobat. Jika mereka bertobat, maka dosa mereka akan diampuni dan mendapatkan damai sejahtera dan sukacita di dalam Tuhan. Ajakan Petrus ini tentu didasarkan apa yang sudah dialaminya sendiri. Tuhan Yesus berkenan mengampuni dan memperbaharui hidupnya, meskipun dia pernah menyangkal-Nya sebanyak tiga kali.
Seperti Petrus yang menjadikan peristiwa kesembuhan orang lumpuh itu untuk memberitakan kabar baik dan mengajak orang lain untuk bertobat, maka ketika kita diberikan karunia oleh Tuhan, mari kita gunakan karunia itu untuk bersaksi tentang karya kasih Tuhan seraya mengajak sesama kita untuk hidup dalam pertobatan. Dengan bertobat, dosa seseorang akan diampuni dan mereka akan merasakan damai sejahtera, sukacita serta berkat Tuhan. (YHS)
“Hidup tanpa pertobatan hanya akan menuntun seseorang kepada kehancuran!”