Cinta adalah Dasar Pancaran Air Hidup 22 Agustus 2022

Bacaan: Yehezkiel 20 : 1 – 17 | Pujian: KJ. 389
Nats:
“Tetapi Aku merasa sayang melihat mereka, sehingga Aku tidak membinasakannya dan tidak menghabisinya di padang gurun.” (Ayat 17).

Pada 24 November 2021, di Desa Sungai Simpang Dua, Kecamatan Kampar Kiri Hilir,Riau, menjadi waktu yang bersejarah bagi Arif (26) yang telah dibebaskan setelah beberapa waktu sebelumnya ditangkap oleh polisi dan dua hari ditahan atas dasar laporan tindak kekerasan yang sering dilakukan terhadap ibu kandungnya. Pembebasan hukuman tersebut karena kasih seorang ibu yang mau memaafkan kesalahan anaknya dan kasih ibu yang tidak tega melihat kondisi anaknya yang ada di dalam hukuman. Semua yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya tersebut hanya berdasar kasih dan cinta.

Peristiwa ini senada dengan bacaan hari ini tentang kasih dan hukuman Allah dalam sejarah Israel. Perjalanan bangsa Israel dalam hubungannya bersama dengan Tuhan Allah selalu memiliki pasang dan surut. Teks hari ini mengingatkan kembali tentang pemberontakan dan hati yang keras orang Yehuda, sehingga berita penghakiman disampaikan sebelum kehancuran Yerusalem. Hal ini menjadi peringatan supaya manusia tidak melupakan kasih setia Tuhan dalam kehidupan. Mencermati ayat 1 – 16, banyak kisah pemberontakan bangsa Yehuda terhadap Allah dan seharusnya bangsa Yehuda menerima hukuman dan dihancurkan. Ini sangat kental dengan paham Teologi Deuteronomis – kepatuhan kepada Allah mendatangkan berkat dan kasih Allah, tapi pemberontakan mendapatkan hukuman. Pada ayat 17 menjadi kesimpulan bahwa dari semua kesalahan dan pelanggaran manusia itu, Allah sayang dan tidak membinasakan bangsa Yehuda. Begitu juga Allah mengasihi manusia berdosa sampai saat ini.

Dalam hidup kita saat ini, kita telah mendapat anugerah Allah berdasar cinta yang tulus (kasih Agape). Lantas apa respon kita? Mengingat kesalahan masa lalu dan mengingat cinta kasih Allah harusnya membuat kita hidup rendah hati. Hidup kita hanya karena pengampunan dan kasih dari Allah, sehingga kita bebas dari penghukuman. Mari kita wujudkan cinta Allah sebagai dasar dalam memberikan pengampunan bagi sesama dan membangun hidup bersama. Selain itu, hendaknya kita hidup dalam kebenaran firman-Nya sebagai respon cinta kasih Allah yang nyata dalam hidup kita. Amin. [Kulz].

“Kasih anak sepanjang gala, kasih ibu-orang tua sepanjang jalan.
Kasih manusia sepanjang keinginan, kasih cinta Allah tidak berkesudahan sepanjang waktu.”

 

Bagikan Entri Ini: