Bacaan: 1 Samuel 25 : 2 – 22 | Pujian: PKJ. 277
Nats: “Sebab itu, pertimbangkanlah dan sadarilah apa yang harus kaulakukan, sebab celaka pasti datang atas tuan kita dan seisi rumahnya. Ia seorang durjana sehingga tidak dapat diajak bicara.” (Ayat 17)
Ada sebuah peribahasa lama yang berkata, “Lidah tak bertulang, namun lebih tajam dari pedang.” Betapa benarnya peribahasa ini. Luka dari pedang bisa sembuh dalam hitungan waktu, tetapi luka dari ucapan yang menyakitkan sering kali tinggal jauh lebih lama dalam hati seseorang. Kadang, tanpa kita sadari, satu kalimat yang kita ucapkan saat marah atau kecewa, bisa merusak relasi yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Sebaliknya, satu kata yang penuh kasih, pengertian, atau pengampunan bisa menjadi penyelamat di tengah konflik. Lidah memang kecil, tetapi ia membawa kekuatan besar: kekuatan untuk merusak atau kekuatan untuk membangun.
Dalam 1 Samuel 25:2–22, kita melihat bagaimana kata-kata bisa menjadi titik awal kehancuran. Nabal dengan ucapan kasarnya, menolak permintaan baik dari Daud. Di ayat 17, salah satu pelayan Nabal berkata kepada Abigail, “Sebab kecelakaan pasti akan menimpa tuan kami dan seluruh keluarganya, dan ia adalah orang dursila yang tidak dapat diajak bicara.” Di balik kalimat ini, terlihat jelas: kata-kata Nabal membawa dampak yang besar, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga banyak orang yang tak bersalah. Sikapnya yang arogan, perkataannya yang sembrono, bisa memicu kemarahan, bahkan membawa kehancuran. Dalam cerita selanjutnya, kita juga melihat bagaimana Abigail, dengan kata-kata yang bijak dan penuh hormat, berhasil meredakan amarah Daud dan menyelamatkan banyak nyawa.
Di bulan ekumene ini, kita diajak merenungkan kembali: bagaimana kita menggunakan lidah kita dalam membangun tubuh Kristus yang satu? Persatuan umat bukan hanya dibentuk lewat kegiatan bersama, tetapi juga lewat cara kita saling berbicara dengan lemah lembut, saling menghargai, tidak menghakimi, dan mau mendengarkan. Kata-kata kita punya kuasa, maka mari kita menggunakan kata-kata kita untuk merangkul, bukan memukul; untuk meredakan, bukan menyulut. Sebab gereja Tuhan dibangun bukan hanya oleh tangan-tangan yang bekerja, tetapi juga oleh lidah-lidah yang mengucapkan kasih, penghiburan, dan kebenaran yang penuh damai. Amin. [MEA].
“Dalam dunia yang mudah terbakar oleh kata, jadilah suara yang menyejukkan dan membangun. Karena dari lidah yang bijak, damai sejahtera hadir.”