Bacaan: 1 Samuel 12 : 1 – 25 ǀ Pujian: KJ. 259
Nats: “Hanya takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukan-Nya di antara kamu.” (Ayat 24 )
William Johnston dalam buku Teologi Mistik Ilmu dan Cinta menyatakan :
“Mistisisme semua agama menunjuk ke persatuan yang merupakan bagian dari perjalanan hidup. Dalam perjalanan ini orang-orang melintasi masa-masa kesendirian dan isolasi serta keterpisahan semu, tetapi ini merupakan perjalanan cinta yang membawa persatuan dengan orang lain, persatuan dengan alam semesta, dan persatuan dengan Allah”.
Melalui kalimat ini, kita mendapatkan pengajaran bahwa puncak dari sebuah keyakinan dalam agama adalah semangat menyatu dengan Allah. Inilah yang menjadi inti dari percakapan antara Samuel dengan bangsa Israel. Kalau dirasakan, percakapan Samuel dengan bangsa Israel memiliki alur kisah yang seakan landai, kemudian mendaki, turun, dan menjadi landai kembali. Ada bagian menjelaskan, menegur, menghukum, hingga menumbuhkan komitmen agar tetap menyatu dengan Allah. Sosok Samuel yang bebas dari segala pelanggaran dan bersih dari beban sejarah, dengan leluasa menegur ketidaksetiaan bangsa Israel yang ingin menjauh dari Allah. Samuel menceritakan secara runtut riwayat ketidaksetiaan bangsa Israel yang merusak persatuan mereka dengan Allah. Termasuk pada saat mereka menginginkan sosok seorang raja, sesuatu yang sangat mendukakan hati Tuhan. Samuel mengajak mereka untuk merenungkan riwayat hidup mereka, seberapa kuatkah tekad mereka menyatu dengan Allah. Pola berpikir bangsa Israel dibongkar, dibangun hingga akhirnya mereka berkomitmen membentuk persekutuan yang baru dalam janji tidak akan mengulangi kesalahan kembali dan merusaknya lagi. Kata “segenap hati” bermakna keutuhan dan kesatuan hati bangsa Israel untuk setia menjaga persatuan mereka dengan Allah.
Kisah reflektif tentang kesatuan dengan Allah yang dialami oleh Johnston mengajak kita membangun hati yang bisa tersentuh dan selanjutnya berjuang untuk menjaga hubungan dengan Allah tidak terputus. Bulan Oktober ini kita sebut sebagai Bulan Ekumene. Kita diingatkan lagi tentang komitmen yang kita ucapkan setiap hari Minggu. Ada bagian kalimat dari Pengakuan Iman Rasuli yang menyatakan pengakuan “persekutuan orang kudus”. Kita diingatkan agar menjaga persekutuan dan persatuan dengan sesama umat percaya yang dilandasi dengan suasana yang kudus dengan Allah. Amin. [WdK].
“Bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Kor. 15:58)