Bacaan: 2 Samuel 1 : 4 – 27 | Pujian: KJ. 450
Nats: “Lalu Daud mencengkeram pakaiannya dan mengoyaknya; begitu juga semua orang yang bersama-sama dia.” (Ayat 11)
Bagaimana reaksi saudara ketika mendengar orang yang selama ini memusuhi atau membenci saudara celaka? Secara manusiawi, sebagian orang menganggapnya sebagai berita baik karena berpikir orang tersebut mendapatkan ganjaran sesuai dengan perbuatan buruknya. Namun tidak demikian reaksi Daud ketika mendengar berita tentang kematian Saul, seterunya.
Meskipun Saul begitu membenci Daud dan ingin membunuhnya, Daud tetap menghormati Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan. Barangkali orang Amalek yang membunuh Saul dan mengabarkannya kepada Daud berpikir ia bisa memperoleh keuntungan karena hal itu. Sebab kematian Saul mempercepat Daud menjadi raja. Namun Daud justru menghukumnya karena ia berani membunuh seseorang yang diurapi Tuhan. Hati Daud berduka karena kasihnya kepada Yonatan dan hormatnya kepada Saul. Ia mengajak seluruh umat Israel untuk mengingat mereka sebagai pahlawan yang patut dihormati. Dalam nyanyian ratapannya, nampak kebesaran jiwa Daud yang bebas dari api dendam dan hasrat berkuasa. Ia menunjukkan kasih setia dan ketulusannya meskipun telah menerima perlakuan buruk Saul.
Kerendahan hati Daud meneladankan kerelaan untuk menerima situasi terbaik hingga terburuk. Daud melihat hal baik dan buruk dengan batin yang diterangi hikmat Allah sehingga melahirkan kidung pujian yang senantiasa memuliakan Allah dalam segala keadaan. Dalam keadaan terburuk sekalipun Daud bisa melihat kebaikan-kebaikan Tuhan. Demikianlah ungkapan syukur kita kepada Tuhan semestinya timbul dari jiwa yang diterangi hikmat Ilahi. Lahir dari kerelaan dan kerendahan hati untuk menerima anugerah terbaik hingga hal-hal terburuk sekalipun. Nyanyian syukur kepada Allah seharusnya tidak hanya dalam sukacita dan kelimpahan berkat, tetapi juga dalam keadaan-keadaan yang tidak kita inginkan. Daud telah membuktikan baktinya kepada Tuhan dengan tetap mengasihi Saul meskipun ia telah dilukai. Demikian pula bakti dan syukur kita kepada Tuhan dibuktikan dalam tindakan yang benar sebagai wujud ketaatan iman. Sehingga dalam segala keadaan, kehidupan kita senantiasa menjadi persembahan yang kudus dan berkenan bagi Tuhan. Amin. [wdp].
“Jika kita bersyukur telah menerima anugerah terbaik, kita juga perlu latihan bersyukur saat menerima hal terburuk.”