Saluran Anugerah dan Berkat Pancaran Air Hidup 20 Juni 2022

20 June 2022

Bacaan: Ayub 18 : 1 – 21 | Pujian: KJ. 295
Nats:
“Sungguh, demikianlah tempat kediaman orang yang curang, begitulah tempat tinggal orang yang tidak mengenal Allah.(Ayat 21).

Tidak seorang pun dari kita ingin menjadi orang gagal dan terpuruk. Pastinya kita ingin menjadi seorang yang berhasil dan sukses dalam segala hal.  Mungkinkah? Sangat mungkin, karena hidup yang berhasil dan diberkati adalah rancangan Tuhan bagi umat-Nya. Memang untuk berhasil tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang kita harus menghadapi banyak sekali ujian dan tantangan. Banyak contoh tokoh Alkitab yang sebelum mengalami penggenapan janji Tuhan dan diberkati, mereka harus mengalami proses demi proses terlebih dahulu. Salah satunya adalah Ayub. Sebagai orang yang berhasil bukan berarti Ayub tidak pernah gagal dalam hidupnya. Ayub pun harus mengalami kegagalan demi kegagalan, penderitaan dan keterpurukan. Keterpurukan Ayub juga disebabkan salah satu sahabatnya yaitu Bildad yang berbicara mengenai penderitaan-penderitaan yang ia alami.  

Pada pasal ini, Bildad menyodorkan sebuah gambaran tegas tentang gambaran neraka di hadapan Ayub. Pada ayat 1 – 4, Bildad hendak mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini ada tempatnya. Tempat yang cocok bagi Ayub adalah neraka karena penderitaan yang tengah ia alami. Pada ayat 5 – 21 ditemukan satu gambaran yang diulang berkali-kali, yaitu tempat tinggal (kemah, tempat kediaman). Dengan gambaran ini, Bildad mengatakan neraka adalah sebuah tempat tinggal yang menjadi tujuan akhir bagi orang-orang fasik. Seluruh pemaparan Bildad ini merupakan ceramah yang baik tentang neraka. Jika kita melihat konteksnya, sebenarnya ceramah ini ditujukan kepada Ayub yang sedang menderita.

Sebagai orang yang mengaku beriman kepada Tuhan, seberapa besarkah berkat Tuhan yang hadir dalam kehidupan kita semua, dalam interaksi kita dengan sesama? Orang beriman maupun tidak beriman, sebenarnya sama-sama mengalami kesulitan hidup. Tugas kita bukanlah membuat penghakiman yang tergesa-gesa dan memojokkan antara satu dengan yang lain. Bagian dan porsi kita adalah menjadi saluran anugerah dan berkat Tuhan dalam setiap aspek hidup kita dengan sesama kita, baik melalui tutur kata dan tindakan kita sehari-hari. Amin. [artha].

“Ketika saya mulai menghitung berkat saya, seluruh hidup saya berubah.” – Willie Nelson

Renungan Harian

Renungan Harian Anak