Bacaan: 1 Korintus 6 : 1 – 11 | Pujian: KJ. 381
Nats: “Tetapi, kamu telah dipermandikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (Ayat 11b)
Membangun gereja bukan pertama-tama soal gedung, program, atau angka pertumbuhan, melainkan membangun iman dan pengharapan umat Tuhan. Dalam kehidupan berjemaat, pembangunan iman sering diuji melalui krisis dan konflik. Perbedaan pendapat, gesekan kepentingan, serta luka relasi kerap muncul, terlebih di tengah tekanan hidup yang semakin berat. Namun firman Tuhan menolong kita melihat bahwa konflik bukanlah akhir dari persekutuan, melainkan kesempatan untuk bertumbuh dan dimurnikan dalam iman.
Jemaat Korintus menghadapi persoalan serius ketika mereka saling menggugat di pengadilan. Persoalan internal jemaat dibawa ke ruang publik sehingga kesaksian gereja menjadi rusak. Rasul Paulus menegur mereka dengan tegas, bukan semata-mata karena persoalan hukum, melainkan karena sikap iman mereka yang belum dewasa. Bagi Paulus, konflik yang diselesaikan dengan cara duniawi menunjukkan bahwa iman belum sepenuhnya membentuk cara berpikir dan bertindak umat percaya. Paulus mengingatkan bahwa orang-orang percaya telah dipanggil untuk hidup dalam terang Kristus. Mereka bukan lagi manusia lama yang dikuasai ego, keserakahan, dan keinginan untuk menang sendiri. Mereka telah “dibasuh, dikuduskan, dan dibenarkan” oleh Yesus Kristus (Ay. 11). Identitas baru ini seharusnya nyata dalam cara mereka menyikapi konflik, yaitu dengan mengutamakan kasih, keadilan, dan perdamaian, bukan pembenaran diri.
Kita menyadari bahwa pembangunan iman tidak selalu berjalan mulus. Justru di tengah konfliklah iman kita diuji dan dimurnikan. Pertanyaannya: “Apakah kita bersedia mengalah demi kesatuan? Apakah kita mau duduk bersama, berdialog mencari kehendak Tuhan, atau mempertahankan ego serta kepentingan pribadi?” Paulus berkata lebih baik menderita ketidakadilan daripada merusak persekutuan tubuh Kristus. Ini bukan ajakan melainkan panggilan untuk menyelesaikan persoalan dengan hikmat dan kasih sebagai umat yang hidup dalam pengharapan pada Kristus. Di tengah berbagai krisis yang dihadapi gereja dan masyarakat saat ini, mari kita mengingat bahwa iman sejati adalah iman yang terus bertumbuh, bahkan di tengah konflik. Dengan bersandar kepada Kristus, gereja dibangun menjadi persekutuan yang dewasa dan menjadi tanda pengharapan bagi dunia. Amin. [asen].
“Iman yang dewasa mengalahkan ego.”