Kasih Yang Memelihara Kehidupan Pancaran Air Hidup 10 September 2026

10 September 2026

Bacaan: 1 Yohanes 3 : 11 – 16  |  Pujian: KJ. 178
Nats: “Janganlah heran, Saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu.” (Ayat 13)

Tidak semua niat baik akan diterima dengan baik. Nyatanya ada pengalaman yang sering dialami banyak orang ketika berusaha berbuat baik, justru disalahpahami atau ditolak. Seseorang yang memilih jujur dianggap aneh, yang peduli dianggap mencampuri urusan orang lain, dan yang berusaha hidup sederhana demi mengurangi dampak lingkungan sering dianggap idealis. Tidak jarang kepedulian dibalas dengan cemooh atau sikap acuh tak acuh. Situasi ini membuat orang bertanya, “Apakah masih ada gunanya hidup dalam kasih?”. Bulan Kitab Suci mengajak kita kembali kepada firman Tuhan yang tidak pernah menutup mata terhadap kenyataan hidup. Firman Tuhan terus relevan menuntun kita melihat bahwa kasih sejati harus tetap berjalan sekalipun kadang berlawanan dengan arus zaman.

Dalam 1 Yohanes 3:13, Rasul Yohanes menegaskan, “Janganlah heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu.” Ayat ini muncul di tengah ajaran tentang kasih yang membedakan anak-anak Allah dari dunia. Yohanes menunjukkan bahwa kebencian lahir dari perbedaan cara hidup. Dunia sering digerakkan oleh iri hati, keserakahan, dan kepentingan diri, seperti yang tampak dalam kisah Kain. Sebaliknya, cara Allah mengasihi umat-Nya dinyatakan dalam diri Yesus Kristus yang rela menyerahkan nyawa-Nya demi kehidupan umat manusia. Kasih Allah tidak mengeksploitasi, tidak menguasai, dan tidak merusak, melainkan memberi diri dan memelihara kehidupan. Kasih itu aktif, berkorban, dan setia sampai tuntas, menjadi ukuran hidup orang percaya.

Teks Alkitab ini menuntun kita pada pertobatan ekologis, yaitu bagaimana seharusnya kita memandang dan memperlakukan ciptaan. Jika kasih Allah adalah kasih yang memberi hidup, maka hidup dalam kasih berarti menolak cara hidup yang merusak dan mengabaikan bumi. Di bulan Kitab Suci ini, kita diajak belajar bukan hanya apa itu kasih, tetapi bagaimana cara Tuhan mengasihi kita dengan kasih yang memberi ruang bagi kehidupan. Ketika dunia menganggap kepedulian ekologis sebagai hal sepele, kita dipanggil untuk tetap setia mengasihi ciptaan sebagai wujud iman yang hidup. Kiranya firman Tuhan menuntun kita pada pertobatan ekologis, sehingga kasih Allah nyata dalam sikap sederhana, pilihan hidup yang bertanggung jawab, dan kepedulian kita pada bumi, rumah bersama yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Amin. [kila].

“Kasih sejati tidak merusak, tetapi memelihara kehidupan.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak