Bacaan: Roma 2 : 1 – 11 | Pujian: KJ 457
Nats: “Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendhiri tidak bebas dari salah.” (Ayat 1a).
Konon ketika kita sedang menunjuk seseorang maka empat jari lainnya menunjuk kepada dhiri kita sendhiri. Itulah nasehat yang sering diberikan orang tua kita. Apakah maksudnya? Maksudnya sebelum menunjuk orang lain, kita diajak untuk melakukan introspeksi kepada dhiri kita sendhiri. Menyediakan lebih banyak waktu berintrospeksi untuk dhiri sendhiri. Apakah segala hal yang terjadi murni karena kesalahan orang lain, apakah tidak ada andil dari dhiri kita? Bagaimana kita merespon suatu kejadian? Dan introspeksi hal lainnya. Iya, melakukan introspeksi kepada dhiri sendhiri atas segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan kita. Kadang manusia lupa untuk melakukannya dan lebih mudah mencari kambing hitam atau menimpakan kesalahan kepada orang lain bahkan kepada Tuhan.
Sekelompok orang yang beriman kepada Yesus Kristus telah hidup di Roma jauh sebelum Paulus merencanakan kunjungan ke sana. Sekitar tahun 49, orang Yahudi dan kelompok baru pengikut Yesus bertikai hebat sehingga Kaisar Romawi Klaudius mengusir mereka ke luar dari Roma (Kis. 18:1-4). Sekitar tahun 56 saat mereka kembali ke Roma, tampaknya pertikaian itu masih tersisa. Sehingga Paulus mengingatkan bahwa menghakimi orang lain dan menuduh mereka berbuat jahat memang sangat mudah tetapi sebelum melihat kesalahan orang lain lebih baik berintropeksi terhadap dhiri sendhiri karena bisa jadi kesalahan yang sama juga dilakukan oleh dhirinya sendhiri. Bagi mereka yang mau bertobat dan menanggalkan kekerasan hatinya, kemurahan Allah akan diberikan, kepada siapapun baik kepada orang Yahudi maupun Yunani (ay. 9).
Yesus pun mengingatkan kepada kita semua melalui Doa Bapa Kami yang diajarkan-Nya. “Ampunilah kami, seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Seringkali lebih mudah menunjuk orang lain, lebih mudah melihat kekurangan dan kesalahan dari orang lain dibandingkan mengingat ada empat jari yang menunjuk kepada dhiri sendhiri, dibandingkan melakukan introspeksi ke dhiri sendhiri atas suatu kejadian. Saat ini, kita diingatkan untuk terus melakukan introspeksi dhiri yang sebelum menimpakan atau melihat kesalahan dari orang lain karena anugerah Allah akan diberikan kepada kita saat kita mau mengakui kesalahan dan bertobat. (cha).
“Ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”