40 Hari Masa Pra Paskah : Perjalanan Di Padang Gurun Pancaran Air Hidup 2 Maret 2026

2 March 2026

Bacaan: Bilangan 21 : 4 – 9  |  Pujian: KJ. 183
Nats: “Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa, ‘Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab, di sini tidak ada roti dan tidak ada air. Kami muak dengan makanan hambar ini.” (Ayat 5)

Momen Pra Paskah khususnya ketika menjalani 40 hari berpantang rasanya seperti berjalan di padang gurun. Selama 40 hari kita diajak untuk berpantang, menahan diri dari hal-hal yang menyenangkan dan perlahan menjauh dari kenyamanan. Rasanya berat, melelahkan, bahkan kadang membuat kita bertanya untuk apa semua ini?

Bilangan 21:4–9 menceritakan umat Israel yang bersungut-sungut saat berjalan di padang gurun. Mereka muak dengan makanan yang Tuhan berikan, bahkan mereka menganggap remeh makanan roti Manna, jenuh dengan perjalanan panjang, dan kehilangan arah (Ay. 5). Di tengah keluhan itu, datanglah ular-ular berbisa yang mematikan (Ay. 6). Namun ketika mereka menyesali sikap mereka dan kembali kepada Tuhan, Tuhan menyuruh Musa membuat ular tembaga dan menggantungkannya tinggi, siapa pun yang memandang ke atas akan sembuh (Ay. 8). Kisah ini tidak hanya tentang kemarahan Tuhan, melainkan tentang hati Tuhan yang ingin umat-Nya belajar melihat lebih dalam. Ular tembaga itu bukan sekadar alat penyembuhan, melainkan simbol pengalihan pandangan: dari keluhan ke kepercayaan, dari luka ke pengharapan. Dalam terang Kristus, kita melihat bahwa ular tembaga itu melambangkan salib, tempat di mana Yesus tergantung untuk menyembuhkan luka terdalam manusia.

Masa Pra Paskah seperti perjalanan bangsa Israel, dimana Tuhan menarik kita keluar dari kebiasaan yang meninabobokan, lalu menempatkan kita dalam ketidaknyamanan yang menyucikan. Berpantang bukan hukuman, tetapi undangan untuk membersihkan diri dari hal-hal yang membelenggu, yaitu ego, kesenangan sesaat, dan dosa. Namun sering kali kita tidak menyadari hal ini, kita sering mengeluh, bersungut-sungut, ingin kembali ke “Mesir”, tempat nyaman tetapi memperbudak. Padahal Tuhan sedang membentuk kita menjadi baru. Ia tidak membiarkan kita mati di tengah perjalanan. Ia menanti kita menengadah dan memandang-Nya. Maukah kita berhenti bersungut-sungut dan mulai memandang kepada Kristus? Saat ini mungkin terasa berat, namun justru dalam ketidaknyamanan itulah Tuhan sedang membersihkan kita untuk hidup baru, yang tidak lagi bergantung pada dunia, tetapi memandang hanya pada salib-Nya. Amin. [MEA].

“Justru di padang gurun kehidupanlah, kita paling merasakan kehadiran Tuhan dan pemulihan-Nya.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak