Panggilan untuk Bersukacita Pancaran Air Hidup 2 Juli 2022

Bacaan: Mazmur 66 : 1 – 9 | Pujian: KJ. 451
Nats:
“Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!” (Ayat 1b – 2)

Kapan terakhir kali saudara memuji Tuhan atas karya dan pekerjaan tangan-Nya? Pada ibadah Minggu? Ibadah Kemisan minggu lalu? Atau tidak dua-duanya? Atau selama ini fokus kita hanya memuji dengan mensyukuri berkat-berkat pribadi saja? Pemazmur melakukan keduanya. Pertama, ia mewakili umat memuji Tuhan atas karya-Nya. Kedua, ia menaikkan syukur untuk pertolongan Tuhan atas dirinya. Di dalam bacaan kita, umat Tuhan mengungkapkan syukur atas pekerjaan Tuhan yang begitu dahsyat (Ay. 5). Tuhan membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir. Ketika dari belakang bala tentara Mesir mengejar mereka, umat Tuhan terhambat oleh Laut Merah yang membentang, tidak mungkin mereka dapat menyeberangi laut itu. Hanya ada dua pilihan dan sama-sama buruk yakni mati oleh pedang atau mati tenggelam. Itu secara pemikiran manusia. Namun Allah melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan manusia. Tiba-tiba di luar semua logika manusia (Ay. 6)  laut terbelah menjadi dua. Laut yang semula menjadi penghalang diubahkan-Nya menjadi jalan.  

Berkat tuntunan-Nya, umat Tuhan dapat menyeberang. Peristiwa ini adalah sebuah kesaksian umat Tuhan, yang dikenang sepanjang sejarah dengan melakukan ungkapan syukur. Dengan kekuatan Allah itu seluruh umat Israel sujud menyembah pada-Nya. Sujud menyembah merupakan pengakuan atas kuasa Allah, sebab Ia menata segala yang ada di bumi ini. Kita pun masing-masing memiliki pengalaman iman, dimana kita pernah mengalami peristiwa hidup yang luar biasa. Apakah yang kita nyatakan dengan peristiwa luar biasa itu? Bukankah itu membuktikan ada kekuatan di luar diri kita?

Pada bulan keluarga dan di tengah kesulitan hidup saat ini, rasanya sulit untuk bersorak-sorai/ bersukacita. Bagaimana mungkin bersukacita, sementara saya merasa kurang dan banyak pergumulan? Bagaimana mungkin bersukacita, sementara saya belum memiliki jodoh dan selalu diabaikan oleh calon kekasih hati? Jika kita selalu berputar-putar berpikiran seperti itu, tidak percaya dengan sukacita yang Tuhan beri, maka kita sebenarnya kurang beriman. Sekali lagi, Tuhan memanggil kita untuk bersorak-sorai, bermazmur memuliakan Tuhan, dan menyatakan apa yang telah Tuhan perbuat bagi diri dan hidup kita. Belajarlah untuk bersukacita, dengan tidak selalu bersungut-sungut, namun tetap tegap, tangguh menjalani hidup dengan penuh syukur dan semangat. Selamat bersukacita. Tuhan memberkati kita. Amin. [tma].

Diawali dengan gembira, dijalani dengan sukacita, dan diakhiri dengan bahagia.

 

Bagikan Entri Ini: