Bacaan: Rut 1 : 1 – 18 | Pujian: PKJ. 282
Nats: “Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (Ayat 16c)
Tentu kita pernah merasakan seolah segalanya terasa runtuh. Yang kita harapkan, pergi, yang kita jaga, hilang, dan yang kita sebut sebagai “rumah” pun berubah menjadi asing. Di momen itu mudah sekali kita merasa bahwa hidup kita telah berakhir. Tetapi justru di momen terendah hidup kita itulah, Tuhan mulai membentuk sesuatu yang baru, bukan dari keberlimpahan tetapi dari kehancuran yang tenang.
Naomi dan Rut berada tepat di titik itu. Ditinggal mati suami, hidup jauh dari kampung halaman, dan tidak tahu lagi apa yang tersisa. Namun, dari reruntuhan itulah, sesuatu yang baru mulai tumbuh. Di tengah duka dan kehampaan, Rut berkata kepada Naomi, “Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Ay. 16). Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti kalimat setia seorang menantu. Tetapi jika kita diam sejenak, kalimat itu adalah pernyataan iman yang menciptakan ulang segalanya. Kita perlu ingat bahwa Rut adalah perempuan Moab. Ia tidak punya kewajiban untuk ikut Naomi kembali ke Betlehem. Ia tidak punya janji masa depan di sana, tetapi Rut memilih percaya, bukan karena ia tahu apa yang akan terjadi, melainkan karena ia tahu kepada siapa ia berjalan bersama. “Bangsamulah bangsaku” adalah keputusan untuk meninggalkan identitas lama. “Allahmulah Allahku” adalah keberanian untuk memasuki kehidupan iman yang baru. Rut tidak sekadar berpindah tempat, tetapi ia berpindah arah, berpindah makna, dan membiarkan Tuhan mencipta ulang siapa dirinya.
Bulan penciptaan bukan hanya tentang awal mula dunia diciptakan. Bulan penciptaan juga berbicara tentang bagaimana Tuhan mencipta ulang hidup kita, bahkan ketika yang tersisa hanyalah puing dan air mata. Sama seperti Tuhan menata ulang hidup seorang perempuan asing Moab, di bulan penciptaan ini, kita belajar bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan langit dan bumi saja, namun Ia juga mencipta ulang manusia, dari reruntuhan yang mereka bawa. Kita mungkin tidak sedang kehilangan seluruh dunia, tetapi mungkin sedang kehilangan arah, harapan, atau keyakinan. Dan kita berdiri di ambang keputusan, “kembali ke masa lalu atau berjalan bersama Tuhan ke arah yang tidak kita tahu.” Mari kita berani berkata seperti Rut, “Allahmulah Allahku,” maka saat itulah hidup kita dimulai kembali. Amin. [MEA].
“Penciptaan bukan hanya saat terang dipisahkan dari gelap, tetapi juga saat seorang perempuan Moab berkata: ‘Allahmulah Allahku.”