Maaf Dan Janji Pancaran Air Hidup 2 Desember 2023

2 December 2023

Bacaan: Mazmur 80 : 1 – 8, 17 – 20 | Pujian: KJ. 369a
Nats: “… maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu.” (Ayat 19)

Saat ini banyak sekali anak-anak yang gemar memainkan gawai untuk mabar (main bareng) bersama teman-temannya. Tak jarang ketika mabar, terucap kata-kata cacian, hinaan, atau apapun itu yang dapat menjadi pemicu pertengkaran. Hal ini kemudian menjadikan orang tua yang mendengar memberikan ultimatum kepada anak-anak mereka. Bisa berupa hukuman, skors, dan sebagainya. Dalam situasi seperti ini, anak-anak merasa sedih dan menyesal,  akhirnya dengan merengek, menyatakan kepada orang tuanya, “Iya saya salah. Saya minta maaf dan saya berjanji tidak mengulangi lagi.”

Gambaran tersebut sama seperti yang dialami oleh bangsa Israel menurut kesaksian Asaf dalam Mazmur 80. Saat itu situasi Pemazmur dan bangsa Israel sedang terpuruk akibat perbuatan-perbuatan mereka yang menyimpang dari jalan Tuhan. Apabila kita perhatikan dengan jeli, seruan permohonan bangsa Israel agar Allah berkenan memulihkan mereka dinyatakan hingga tiga kali, pada ayat 4, 8, dan 20. Mereka menaruh pengharapan kepada Allah bahwa Allah akan memulihkan keberadaan mereka. Betapa ini menunjukkan kesungguhan bangsa Israel yang  benar-benar merasa jera. Yang terpenting, mereka menyatakan komitmen untuk tidak menyimpang dari jalan Tuhan dan menyembah Allah dalam hidup mereka kembali. (Ay. 19).

Melalui perenungan Mazmur 80 ini, kita sadar bahwa sejatinya setiap kita yang telah melakukan kesalahan dan terpuruk karena perbuatan kita, pengakuan dosa saja tidaklah cukup. Kita tahu Allah Maha Kasih dan Maha Pengampun, tetapi kita harus melanjutkan dengan kesediaan memperbarui diri, bertobat secara sungguh-sungguh, dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali. Barulah kita bisa berharap pengampunan dan pemulihan dari Tuhan. Pengharapan dan komitmen menjadi makna yang kental di tengah penghayatan masa Adven pertama saat ini. Mari kita melihat ke dalam diri kita yang rapuh. Kita menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Mari kita berpengharapan kepada Allah. Kita meyakini bahwa Allah akan menuntun dan menguatkan kita dalam menghadapi dan melewati keterpurukan dan krisis kehidupan. Mari kita nyatakan komitmen bahwa keterpurukan tidak akan mengubah kesetiaan kita kepada Allah, tetapi menjadikan kita semakin bersedia melakukan kehendak-Nya. Amin. [rit].

“Merasa menyesal, berani mengakui, dan bersedia memperbaiki untuk berharap akan pemulihan-Nya.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak