Bacaan: Bilangan 11 : 16 – 23 | Pujian: KJ. 393
Nats: “… maka mereka bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, …” (Ayat 17b).
Ku tak dapat jalan sendiri
Tuhan tolonglah daku
Biarlah sinar-Mu menerangiku
S’bab ku tak dapat jalan sendiri
Lagu ini mengingatkan bahwa sekuat-kuatnya kita sebagai manusia, ada masanya kita merasa lemah. Ada banyak hal yang bisa membuat manusia merasa lemah dan tak berdaya di dalam hidupnya. Entah itu karena kondisi fisik ataupun psikisnya. Di saat seperti itulah kita benar-benar membutuhkan pertolongan dari orang lain, keluarga, sahabat, dan juga Tuhan. Pertolongan yang kita dapatkan akan menguatkan kita untuk kembali melangkah dan menjalani kehidupan ke depan.
Musa merasa lemah dan tak berdaya karena ada orang-orang Israel protes meminta daging dengan membandingkan kehidupan mereka di Mesir dulu dengan kehidupan mereka di padang gurun. Tampaknya mereka sudah mulai bosan dengan Manna yang diberikan oleh Tuhan setiap hari. Di saat seperti itulah Musa merasa lemah, tak berdaya dan bahkan kehilangan pengharapan. Ia merasa tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sehingga ia berkeluh kesah kepada Tuhan. Ia merasa seorang dhiri melakukan tugasnya (ay. 14). Ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa untuk mereka, tidak bisa menyediakan apa yang mereka minta (ay. 22). Musa lupa akan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan yang diberikan kepadanya dan bangsa Israel selama ini. Seolah ia merasa harus bertanggungjawab sendhiri atas apa yang terjadi dengan bangsa Israel. Mengatasi ketidakberdayaan dan keputus-asaan Musa itu, Tuhan memberikan anugerah-Nya. Ada 70 orang tua-tua Israel yang dipilih untuk membantu Musa menjalankan tugasnya dan Tuhan juga menyediakan daging untuk bangsa Israel selama sebulan lamanya.
Saat pergumulan, ketidakberdayaan, dan keputusasaan datang dalam kehidupan kita, ingatlah bahwa ada rekan seperjalanan yang diberikan Tuhan untuk kita, serta ada cinta Tuhan yang diberikan untuk menguatkan kita melangkah menghadapi hari esok. (cha).
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17)