Dicaci Tapi Tidak Membenci Renungan Harian 19 Januari 2018

Bacaan  : 2 Petrus 3 : 1 – 7  |  Pujian:  KJ 467 : 1, 2
Nats:
“… bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.” (Ay. 3)

Pernahkah saudara dicaci maki oleh orang lain? Bagaimana perasaan saudara? Jelas akan benci dengan hal itu, terlebih jika kita merasa tidak melakukan kesalahan tetapi tetap dicaci maki. Ada cerita tentang perayaan Natal. Panitia sudah dibentuk dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh. Namun pada saat acara perayaan berlangsung, ada hal-hal di luar kendali: suara sound system yang terlalu keras, durasi waktu yang terlalu lama, pengisi acara yang terlambat, makanan yang kurang, dll. Akibatnya suasana perayaan Natal yang semestinya membawa sukacita dan kegembiraan menjadi ajang bagi jemaat -yang tidak puas dengan acara tersebut- mencaci maki panitia, baik itu secara terang-terangan maupun menjadi bahan pergunjingan. Hal inilah yang seringkali menyebabkan persekutuan menjadi retak.

Rasul Petrus menuliskan suratnya yang kedua kepada jemaat di Asia Kecil. Dalam suratnya, Petrus menggambarkan situasi bahwa di zaman akhir akan tampil para pengejek/ penghujat  yang hidup hanya menuruti hawa nafsunya. Mereka sengaja tidak mau tahu akan kebenaran Firman Tuhan. Di sinilah Petrus menasehatkan agar mereka senantiasa berusaha hidup benar, tak bercacat dan tak bernoda di hadapan Tuhan, mau bertobat dari kesalahan dan perbuatan jahat, kembali hidup di jalan Tuhan. Akan tiba waktunya hari Tuhan tiba dan jemaat hendaknya bersiap sedia.

Keberadaan gereja masa kini ada pada situasi dan keadaan seperti yang digambarkan oleh Petrus. Ada banyak orang yang saat ini menjadi pencaci maki, penghujat, pemberontak terhadap sesamanya. Lantas bagaimana dengan diri kita? Tentunya kita harus menjadi pembawa terang di tengah kegelapan, yang artinya kita harus menyatakan kasih Allah melalui sikap hidup kita. Kebenaran Firman Tuhan hendaknya kita wartakan pada sesama kita. Kita tidak membalas caci maki dengan caci maki, tetapi kita mau mengasihi orang yang mencaci maki itu. Karena dengan mengasihi, kita mau mengampuni dan mendoakan orang yang mecaci maki kita. Jangan pernah membenci saudara kita, tetaplah berdoa agar mereka menyadari kesalahannya.  (AR)

Mencaci hanya akan melukai hati, tetapi mengasihi akan menyejukkan hati

 

Bagikan Entri Ini: