Bacaan: 1 Korintus 10 : 23 – 11 : 1 | Pujian: KJ. 429
Nats: “Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi tidak semua berguna.” (10:23)
Saat saya bertamu ke rumah seorang warga yang kebetulan sedang makan, ia segera berhenti dan menutup makanannya – bukan karena enggan berbagi, tetapi karena rasa malu menikmati makanan sendiri di hadapan tamu! Tindakan ini bukan didorong aturan tertulis, melainkan etika sosial yang tumbuh dari penghormatan dan rasa kebersamaan dalam budaya. Dalam budaya semacam ini, berbagi bukan sekadar memberi sebagian makanan, tetapi merupakan bahasa penghargaan yang berkata: “Aku tak ingin kenyang sendiri saat kau masih menatap kosong.” Menikmati sesuatu seorang diri saat orang lain belum mendapat bagian menjadi janggal dan tidak nyaman. Di sini, kebebasan pribadi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan selalu terikat pada tanggung jawab sosial, meski tidak terlihat, ikatannya tetap kuat dan bermakna.
Paulus menyuarakan hal yang senada kepada jemaat di Korintus (bdk. 1 Kor. 10:23). Kebebasan, bagi Paulus, bukanlah hak absolut tanpa batas. Bukan pula pembenaran untuk menuruti ego. Kebebasan sejati selalu menimbang: Apakah tindakanku membangun sesama? Apakah keputusanku mempererat atau justru meretakkan komunitas? Di tengah masyarakat yang makin individualis, pesan ini menjadi sangat relevan. Kebebasan sering dielu-elukan, tetapi tanggung jawab sosial kerap diabaikan. Iman menantang orang percaya untuk tidak mengejar kepuasan diri jika hal itu merusak relasi. Sebab jika kebebasan melahirkan perpecahan, itu bukanlah kebebasan, melainkan pelarian dari kasih. Kebebasan sejati justru hadir dalam hal-hal kecil, dalam jeda menyendok nasi saat tamu datang, dalam tatapan yang menahan diri mengakui kehadiran sesama. Kasih tidak perlu sorotan dan panggung; ia hidup dalam kepekaan. Ketika seseorang menunda kenikmatan demi menghormati yang lain, disanalah spiritualitas menjadi nyata, dalam tindakan kecil yang menolak egoisme.
Pertanyaannya kini, masih adakah budaya itu? Masih adakah ruang dalam hati yang bersedia memberi tempat bagi yang lain bahkan tanpa diminta? Atau jangan-jangan, terlalu kenyang dalam kebebasan sampai lupa bahwa kasih itu tidak pernah “makan sendiri?” Sebab jika kebebasan tidak lagi mengenal batas dan kasih kehilangan tempatnya, maka yang tersisa hanyalah kebersamaan semu, hidup berdampingan tetapi tidak benar-benar saling peduli. Amin. [ven].
“Love doesn’t mean doing extraordinary or heroic things. It means knowing how to do ordinary things with tenderness.” – Jean Vanier