Bacaan : Yeremia 3 : 19 – 25 | Pujian : KJ 29 : 1, 3
Nats: “Maka biarlah kita berbaring dengan perasaan malu, dan biarlah noda kita menyelimuti kita,sebab kita telah berdosa kepada Tuhan, Allah kita..” [ayat 25]
Seorang pencuri yang tertangkap, diselamatkan oleh polisi sebelum dihakimi oleh massa. Pada saat di kantor polisi, dia ditanya,”Sudah berapa kali kamu mencuri? Mengapa kamu mencuri? Dengan siapa kamu mencuri? Apakah kamu menyesali perbuatanmu?”. Si pencuri mengakui kesalahan dan perbuatan jahatnya. Dia juga menyesali perbuatannya itu dan berjanji untuk tidak mengulanginya di kemudian hari.
Akhirnya ia harus masuk penjara selama 2 tahun. Apakah setelah dia dipenjara dan keluar dari penjara, dia berubah menjadi orang baik? Mungkin saja! Jika dia sungguh-sungguh menyesali perbuatannya dan berjanji untuk bekerja keras, dia akan menjadi orang yang baik dan dapat diterima kembali di lingkungan masyarakat. Sebaliknya jika dia tidak bertobat dan menyesali perbuatannya itu, bukan tidak mungkin selepas dari penjara, dia kembali mencuri.
Bangsa Israel pada masa nabi Yeremia telah berlaku jahat di hadapan Allah. Mereka tidak lagi setia dan menyembah Allah. Yeremia mengingatkan kembali bangsa Israel akan kasih setia Allah Bapa kepada umat-Nya. Allah berkenan menyatakan pengampunanNya dan memulihkan sekiranya bangsa Israel menyesali perbuatannya dan berseru memohon pengampunan. Allah merindukan bangsa Israel bertobat kembali kepada- Nya. Yeremia mengungkapkan bahwa semestinya mereka merasa malu kepada Allah karena perbuatan dosa dan jahat yang telah mereka perbuat. Yeremia juga mewartakan berita keselamatan dan pengampunan.
Seringkali kita jatuh dalam dosa. Kita tidak mampu menjaga hati, pikiran, ucapan kita dengan baik dan benar, sehingga seringkali kita mengecewakan hati Tuhan dan menyakiti hati sesama. Kita harus jujur mengakui dosa dan kesalahan kita di hadapan Tuhan. Ada pertobatan yang sungguh-sungguh dalam diri kita. Pertobatan yang lahir dari dasar hati disertai kesungguhan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pertobatan yang harus disertai komitmen atau janji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa yang sama. [AR]
“Tanpa pertobatan mustahil kita mendapatkan pengampunan dan keselamatan”