Bacaan: Roma 11 : 13 – 29 | Pujian: KJ. 389
Nats: “Sebab Allah tidak menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya.” (Ayat 29)
Kata “hokki” berasal dari bahasa Mandarin, hok dan kì yang artinya nasib baik, nasib mujur. Istilah ini meskipun berasal dari bahasa Mandarin namun kita paham benar dengan makna kata hokki tersebut. Ungkapan ini biasa dipakai untuk menggambarkan kesuksesan yang datang seolah tak terduga yang berkaitan dengan usaha atau pekerjaan kita. Dunia sering melihatnya sebagai faktor kebetulan semata, sesuatu yang acak dan tak terkendali.
Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Roma menjelaskan rencana Allah yang luas dan dalam. Ia menulis tentang bagaimana keselamatan sampai kepada bangsa – bangsa non-Yahudi. Bagi orang-orang di luar Israel saat itu, ini mungkin tampak seperti “hokki”, mendapatkan anugerah yang tidak diduga. Namun, Paulus menegaskan bahwa ini sama sekali bukan kebetulan atau nasib acak. Ini adalah bagian dari rencana Allah yang penuh hikmat, di mana kekerasan hati orang Israel justru membuka pintu kasih karunia Allah bagi bangsa – bangsa lain. Paulus kemudian mengingatkan dengan tegas, “Janganlah kamu bermegah!” Lebih dalam lagi, ia mengungkapkan di balik semua pergerakan sejarah dan pengalaman personal ini, ada rencana Allah, yang karunia dan panggilan-Nya tidak dapat ditarik kembali. Inilah yang seharusnya menjadi fondasi hidup kita, bukan kepercayaan pada “hokki” yang naik turun. “Hokki” sejati seorang Kristen adalah statusnya yang tidak berubah sebagai penerima kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus. Ini adalah “Hokki” yang paling hakiki: dipilih, dikasihi, dan dijadikan bagian dari rencana keselamatan-Nya, sekalipun kita tidak layak.
Oleh karena itu, marilah kita melepaskan pandangan duniawi tentang nasib dan keberuntungan. Setiap pintu yang terbuka, setiap pertolongan yang kita terima, merupakan kesempatan baik yang bukan oleh karena usaha kita. Malahan dengan kedaulatan-Nya, Allah yang sedang menggenapi rencana-Nya yang baik. Kita dipanggil bukan untuk mempercayai “hokki”, tetapi untuk mempercayai Pribadi Maha Luhur, yakni Sang Pencipta dan Pemberi Berkat di balik segala peristiwa hidup kita yang disebut beruntung. Dalam keadaan apapun yang tampak mujur atau malang menurut anggapan dunia, mari kita berpegang pada janji Allah bahwa Ia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Amin. [YOPI].
“Keberuntungan merupakan momen ketika rencana kita beririsan dengan rencana besar Tuhan.”