Bacaan: Wahyu 11 : 1 – 18a | Pujian: KJ. 426
Nats: “Merekalah kedua pohon Zaitun dan kedua kaki pelita yang berdiri di hadapan Tuhan Semesta Alam.” (Ayat 4)
Sebuah berita di tahun 2024 menuliskan “seorang pria tewas setelah menegur geng motor di pasar Cengkareng.” Diberitakan ada seorang pria yang sedang duduk di depan pasar Cengkareng. Kemudian lewat geng motor di depannya sambil menggeber-geber motor. Pria itu menegur mereka dengan maksud baik, namun geng motor tadi merasa tidak terima. Mereka melawan pria yang menegur tadi dengan senjata tajam dan berakhir dengan kematian. Kisah penganiayaan ini terjadi karena salah paham ditambah pengaruh minuman keras. Inilah realita kehidupan saat ini, seringkali kita jumpai penganiyaan terjadi, baik di jalan, di rumah, bahkan di tempat kerja kita. Bahkan dalam kehidupan orang-orang percaya di daerah Timur Tengah dan Korea Utara juga mengalami penganiayaan.
Wahyu 11:1-14 mengajak para pembaca masa kini merenungkan kembali perlindungan Allah bagi gereja di tengah-tengah penindasan dan penganiayaan yang dialami. Ayat 1 menyebutkan, “Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: “Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.” Ayat ini menunjukkan tanda kepemilikan dan perlindungan Allah atas seluruh umat-Nya ketika menghadapi tekanan. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi yang disimbolkan sebagai dua saksi Allah, kedua pohon zaitun, dan kedua kaki dian (Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam) (Ay. 4). Dalam perjalanan umat percaya menjadi saksi Allah tidaklah mudah, ada kalanya umat Tuhan mengalami penganiayaan di dunia ini. Namun yang harus kita ingat, setelah umat menyelesaikan tugas kesaksiannya, segala penderitaan akan dipulihkan oleh Allah dan mendapatkan kemuliaan.
Bersyukur kepada Tuhan, hingga detik ini kita boleh merasakan nafas kehidupan yang tidak terhingga. Melalui refleksi kitab Wahyu 11, kita diajak untuk menjadi saksi yang setia meskipun itu tidak mudah. Selalu ada tantangan bahkan tetes air mata yang kita alami. Ingatlah teladan Yesus dan kita pun diajak melakukannya dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi saksi Allah yang setia. Saksi yang mengutamakan kebenaran dan kasih, yang mendatangkan berkat bagi kehidupan. Tuhan akan senantiasa melindungi. Amin. [LEN].
“Melayani setulus hati dan tetap setia melayani.”