Aku Adalah Sayap Renungan Harian 15 April 2018

Bacaan: I Yohanes 3:1-7   I   Pujian: KJ. 389:1-4 
Nats
: “… janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu.” (ayat 7a).

Laki-laki dan perempuan seperti dua sayap seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” (Soekarno, Presiden ke-1 Republik Indonesia, 1901-1970. Intisari Agustus 2017).

Sebagai orang percaya, harga diri kita terletak pada Allah yang mengasihi kita dan menyebut kita sebagai anak-anak-Nya. Pemahaman bahwa kita adalah anak-anak-Nya akan mendorong kita untuk hidup seperti Tuhan Yesus, agar kita dapat menjadi refleksi atau bayangan Allah.

Hidup Kristen adalah sebuah proses untuk semakin menjadi seperti Kristus. Proses ini tidak akan pernah sempurna sampai kita melihat Kristus muka dengan muka (I Kor. 13:12; Fil.3:21). Pemahaman ini merupakan keberuntungan yang tak ternilai bagi kita. Untuk itu, sebaiknya hal tersebut memotivasi kita untuk memurnikan diri kita sendiri. Memurnikan berarti berpegang pada moral yang lurus dan bebas dari kecurangan dosa. Allah juga tetap memurnikan kita, sebab itu kita harus tetap sehat secara moral (I Tim.5:22; Yak.4:8; I Pet.1:22).

Orang beriman yang jatuh kedalam dosa, ia menyesalinya, mengakui, dan mendapatkan pengampunan. Orang yang sengaja melakukan dosa, ia tidak menyesalinya. Jadi, orang ini tak pernah mengakui dan tak pernah menerima pengampunan. Orang semacam ini ada dalam posisi melawan Allah.

Di bawah sistem korban Perjanjian Lama, seekor domba tanpa cacat dipersembahkan sebagai  korban dosa. Tuhan Yesus adalah ‘Domba Allah yang menanggung dosa dunia’ (Yoh.1:29). Karena Tuhan Yesus hidup-Nya sempurna dan mengorbankan diri-Nya bagi dosa kita, kita memperoleh pengampunan yang sempurna (2:2). Kematian-Nya memberi jaminan bagi kita, bahwa kita tak akan pernah menderita kematian kekal (I Pet.1:18-20).

Kita adalah sayap yang harus kuat, untuk merespon karya Allah, agar dapat membangun nilai moral yang tinggi. Amin. (Esha).

“Aku berbahagia benar, diasuh oleh-Nya”.

 

Bagikan Entri Ini: