Bacaan : I Samuel 28 : 3 – 19 | Pujian : KJ. 369a
Nats: “ … Lalu berbicaralah Samuel: “Mengapa engkau bertanya kepadaku, padahal Tuhan telah undur dari padamu dan telah menjadi musuhmu” …” (Ay. 16)
Kehidupan saat ini diperhadapkan dengan segala sesuatu yang serba cepat, mudah dan murah. Dinamika dan proses untuk mendapatkan sesuatu, nampaknya sudah bukan lagi menjadi sebuah budaya di era saat ini. Hal ini berdampak pada pola pikir manusia yang cenderung berpikir pendek dan ketika hasil tidak segera ia peroleh, maka cara-cara instan mereka ambil meskipun kadang itu adalah cara yang curang.
Berkaitan dengan fenomena yang muncul saat ini, senada dengan perjalanan dari seorang Saul. Sebelumnya Saul adalah raja yang diurapi oleh Tuhan, namun karena ketidaktaatannya dan ketidaksabarannya kepada Tuhan, hidup Saul mengalami kemunduran dan kemerosotan. Kemerosotan itu semakin nampak terlihat ketika Saul melihat tentara Filistin berkumpul di dekat Sunem untuk menyerang Israel – melihat keadaan itu Saul menjadi takut. Lalu ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan, namun Tuhan tidak mengindahkannya. Saul menjadi sangat panik, ditambah lagi posisi Samuel sudah meninggal sehingga tidak ada petunjuk untuk menghadapi tentara Filistin itu. Di tengah kepanikan dan ketakutannya, Saul mengambil jalan pintas dengan bertanya kepada pemanggil arwah agar dipanggilkan arwah Samuel. Cara instan yang dipilih Saul bersama pemanggil arwah itu nampaknya tidak membawa Saul semakin baik, namun membawa dia semakin hancur.
Budaya berproses memang bukan lagi menjadi budaya yang nyaman di tengah kemudahan saat ini! Namun pertanyaan yang menjadi penting adalah, apakah cara-cara instan itu semakin mambawa kepada relasi bersama Allah? Ataukah cara-cara instan itu malah menggeser posisi Allah dari tempat yang seharusnya? Jika memang saat ini posisi Allah telah bergeser karena budaya instan itu, segeralah sadar sebelum kehancuran dan kemerosotan hidup benar-benar menjadi teman kehidupan. (gus).
“Orang pintar maunya cepat berhasil, padahal semua orang tahu itu impossible” (-Bob Sadino-)