Bacaan: Kejadian 14 : 17 – 24 | Pujian: KJ. 362
Nats: “Aku tidak akan mengambil apa pun dari semua milikmu itu, seutas benang atau tali kasut pun tidak, …” (Ayat 23a)
Panggilan interview dalam sebuah pekerjaan menjadi berita sukacita bagi seseorang yang sedang menanti dan merindukan pekerjaan. Ketika interview dijalankan dengan baik serta saling sepakat antar kedua belah pihak, maka dimulailah pekerjaan itu. Bekerja dengan penuh tanggung jawab, taat pada kesepakatan, serta bekerja dengan setia untuk mendatangkan berkat baik bagi diri sendiri maupun untuk perusahaan.
Menghidupi sebuah panggilan dilakukan oleh Abram ketika ia dipanggil oleh Allah untuk menjaga dan memelihara ciptaan Tuhan. Hal ini terwujud dalam laku hidup Abram yang senantiasa menegakkan keadilan dan tidak menyalahgunakan kekuasaan yang diberikan oleh Allah. Atas ketaatan Abram, Tuhan Allah turut menolong ketika Abram berjuang mengalahkan Kedorlaomer dan para raja lainnya. Selain itu, Abram pun mendapat sambutan dan penghargaan dari raja Sodom (Ay. 17), begitu pula dari raja Salem, yaitu Melkisedek (Ay. 18). Selain itu Abram juga mendapat bagian dari harta milik raja Sodom yang berhasil dirampas kembali oleh Abram dari raja Kedorlaomer (Ay. 20). Tetapi Abram menolak hal itu (Ay. 23), ia hamya meminta bagian untuk orang-orang yang telah ikut membantunya dalam melawan raja Kedorlaomer (Ay. 24). Melalui hal tersebut terlihat bahwa Abram sama sekali tidak mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya ia menjalankan tugasnya demi terciptanya damai sejahtera.
Menyadari panggilan Tuhan dalam hidup tidak semata-mata muncul begitu saja. Ada proses panjang yang menyadarkan kita sebagai manusia bahwa panggilan Tuhan dalam diri kita adalah untuk menjadi berkat. Minggu Pra Paskah ini menjadi momen yang tepat bagi kita untuk sejenak menarik diri dan menghayati panggilan Tuhan dalam diri kita. Sudahkah hidup kita benar-benar menyenangkan hati Tuhan atau hidup kita hanya untuk menyenangkan diri sendiri? Mari kita menyangkal diri dan ikut menghayati masa-masa menjelang kesengsaraan Yesus. Kita menyadari kembali bahwa keberadaan kita di dunia ini tidak untuk menjadi yang terhebat, melainkan untuk hidup kudus dan menjadi berkat bagi ciptaan Tuhan. Amin. [CDS].
“Gaya hidup menjadi berkat, lahir dari relasi yang intim dengan Tuhan Allah.”