Bacaan: Mazmur 8 : 1 – 10 | Pujian: KJ. 64
Nats: “… apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Ayat 5)
Apakah yang saudara banggakan dalam hidup saudara saat ini? Kekayaan, kedudukan, atau kepandaian saudara? Seringkali manusia mempunyai sifat meninggikan diri dengan pencapaian hidupnya. Mereka menganggap bahwa semua yang ia miliki adalah hasil dari usaha dan kerja kerasnya sendiri. Tidak salah memang orang merasa demikian sebab mereka telah berjuang dan bekerja keras untuk mencapai cita-cita, impian, dan harapannya. Namun kesombongan diri dan terlalu membanggakan diri itulah yang perlu kita waspadai, sebab dua hal itu akan menjatuhkan diri kita pada kehancuran. Yang perlu kita ingat, manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan. Membanggakan diri akan pencapaian diri hanya akan membawa kita pada kebanggaan semu dan sesaat.
Bacaan Mazmur pada saat ini merupakan Mazmur pujian dari Daud. Dalam Mazmurnya, Daud mengungkapkan akan keagungan dan kemuliaan Tuhan Allah dalam hidupnya (Ay. 2). Dengan melihat bintang, bulan di langit, Sang Pemazmur Daud menyadari akan keterbatasan dan kelemahan dirinya sebagai manusia. Karena itu ia bertanya, “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?” (Ay. 5). Dari pertanyaan ini Sang Pemazmur menemukan jawaban bahwa manusia berharga di hadapan Allah. Tuhan Allah yang memahkotai manusia dengan kemuliaan dan kehormatan, membuatnya berkuasa atas binatang-binatang (Ay. 7-9). Karena itu, Sang Pemazmur memuji memuliakan Tuhan Allah di sepanjang hidupnya.
Di bulan Kespel saat ini, kita pun dapat melakukan hal yang sama seperti Sang Pemazmur Daud. Yang kita banggakan dalam hidup kita bukan kekayaan, kedudukan, kepintaran diri kita melainkan yang kita banggakan adalah menjadi milik Tuhan Allah. Kita berharga di mata Tuhan Allah itulah kebanggaan kita. Oleh karena itu sebagai milik Tuhan Allah, hidup kita adalah hidup yang menyatakan kebaikan dan keselamatan bagi orang lain. Hidup kita tidak hanya untuk mencari kebanggaan semu, tetapi mari kita memaknai bahwa berharga di mata Tuhan Allah itulah kebanggaan yang sejati. Tentu untuk menjadi milik Tuhan dan berharga di mata Tuhan, kita perlu menjaga hidup kita dengan benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Mari kita terus mengupayakan kebaikan dalam hidup bersama dan memuliakan Tuhan dalam setiap perjalanan hidup kita. Amin. [AR].
“Janganlah jatuh pada kebanggaan semu, melainkan banggalah menjadi milik Tuhan.”