Bacaan: Ibrani 10 : 26 – 31 | Pujian: KJ. 413
Nats: “Bayangkan betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah dan menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan menghina Roh anugerah!” (Ayat 29)
Pernahkah saudara menjumpai kemasan suatu produk yang mencantumkan tulisan undian berhadiah? Atau pernahkan saudara menjumpai promo-promo ketika sedang berbelanja di supermarket atau belanja online? Kalau kita melihat lebih dekat, dalam undian berhadiah atau promo-promo tersebut, pasti juga tercantum tulisan: “syarat dan ketentuan yang berlaku” untuk memperoleh hadiah dan promo tersebut. Ini menunjukkan sekalipun ada hadiah atau promo, untuk mendapatkannya tidak bisa secara cuma-cuma dan diberlakukan pada siapapun, pasti selalu ada syarat yang harus dilengkapi untuk mendapatkannya.
Lalu apakah untuk mendapatkan kasih karunia, ada ketentuan syaratnya atau bisa kita claim sesuka hati kita? Penulis surat Ibrani menyampaikan bahwa hanya di dalam Kristus kita bisa hidup dalam kasih karunia, di luar Kristus tidak ada keselamatan. Bahkan hukum Taurat jika kita melanggarnya, maka kematian menjadi hukumannya (Ay. 28). Penulis surat Ibrani mengatakan bahwa melalui darah Yesus, kita diundang masuk ke dalam tempat yang kudus (Ay. 19). Setiap orang yang diundang memperoleh pengetahuan akan kebenaran (Ay. 26), dan itu diberikan secara gratis bagi siapapun. Namun penulis surat Ibrani juga menegaskan bahwa siapa yang dengan sengaja berbuat dosa atau merusak kasih karunia Allah akan mendapatkan hukuman sendiri dari Allah (Ay. 29).
Sering kali karena kita mendapatnya kasih karunia keselamatan dengan cuma-cuma, maka kita cenderung menganggap remeh hal itu dan tidak bermakna karena didapatkan dengan mudah. Contohnya: karena kita tahu bahwa dalam ibadah minggu terdapat bagian panggilan pertobatan dan berita anugerah, hal itu membuat kita terjebak dengan pemikiran, “Tidak apa-apa aku berbuat dosa, besok waktu ibadah minggu, aku akan diampuni.” Jika kita masih memiliki pemikiran yang demikian, maka itu sama halnya dengan menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan dalam hidup kita. Di bulan pembangunan ini, kita diajak untuk menghargai kasih karunia Tuhan itu dengan hidup benar dan kudus di hadapan-Nya. Karena jalan yang benar untuk masuk dan kembali kepada Allah sudah terbuka, mari kita jalani hidup kita berkenan dan erat di dalam Tuhan. Amin. [MEA].
“Kasih karunia itu cuma-cuma, maka jangan disia-siakan, jagalah dan hiduplah setia!”