Bacaan: Matius 17:14-21 | Pujian: KJ. 184:1,2
Nats: “bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” (ayat 19)
Alkisah di sebuah kampus, bak wasit sepakbola, seorang mahasiswa menghadiahi Presiden sebuah kartu kuning. Tindakan tersebut disindir oleh Menteri Keuangan yang juga alumni kampus itu, katanya, “kalau mau demo soal itu, harusnya belajar ekonomi makro dulu..ya sudah, jangan bilang saya dosennya lho ya..” Jika menyampaikan aspirasi/kritik kepada pemerintah, mahasiswa diminta melengkapi semangatnya dengan keilmuan yang memadai. Kalau tidak, bisa malu-maluin alias fatal akibatnya. Demikian maksud Menteri tersebut.
Murid-murid Tuhan Yesus membantu pekerjaan gurunya. Bahkan mereka dibekali dengan kuasa untuk menyembuhkan orang sakit. Namun ternyata mereka tidak mampu menyembuhkan orang yang sakit ayan itu. Setelah Tuhan Yesus berhasil menyembuhkan orang itu, murid-murid mempertanyakan penyebab mereka tidak dapat menyembuhkan orang itu. Menurut Tuhan Yesus, mereka kurang beriman (17:20).
Menurut Rasul Paulus, iman bisa timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17) alias bergumul dengan Firman Tuhan. Jadi, kalau boleh menilai penyebab kegagalan para murid menyembuhkan orang sakit ayan tersebut, selain kurang doa dan puasa (17:21), juga mungkin karena kurang bergumul dengan firman Kristus sendiri. Memang mereka mendengar firman Kristus tetapi mungkin kurang menggumulinya sehingga fatal akibatnya.
Kita sering mengaku sebagai warga yang aktif ke gereja. Rajin membaca kitab Suci, berdoa tiap hari, tidak lupa memberi persembahan/perpuluhan. Namun ketika diminta untuk mendoakan orang sakit, jarang kita dapati kuasa kesembuhan itu langsung nyata dan dialami orang yang sakit. Memang kita meyakini bahwa Tuhan juga berkenan memakai paramedis untuk sarana kesembuhan. Namun semoga kita juga menyadari dan mengakui bahwa seperti para murid itu, kita juga sering kurang bergumul dengan firman Kristus sehingga doa kita tidak berdampak. (tes)
“Mujizat nyata karena kuasa firmanNya”