Bacaan: Lukas 17 : 11 – 19 | Pujian: KJ. 299
Nats: “Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria.” (Ayat 15-16)
Berterimakasih adalah salah satu nilai luhur yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Berterimakasih adalah sebuah pelajaran yang sederhana namun dapat menumbuhkan kepribadian yang baik bagi anak di saat ia sudah dewasa. Akan tetapi kenyataannya ketika sudah beranjak dewasa, mengucapkan terimakasih tidaklah semudah ketika masih anak-anak. Apalagi untuk mengucapkan terimakasih dan syukur kepada Tuhan, sering kali terlupa bahkan terabaikan. Bisa jadi dalam kehidupan ini, seseorang menerima banyak kebaikan Tuhan, seperti nafas hidup, keluarga, perlindungan, pekerjaan dan makanan namun hanya sedikit yang benar-benar mampu bersyukur atas berkat-berkat tersebut.
Bacaan kita saat ini bercerita tentang Tuhan Yesus yang menyembuhkan sepuluh orang kusta. Dimana penyakit kusta pada zaman itu adalah penyakit yang sangat mengerikan dan dapat membuat seseorang dikucilkan dari kehidupan sosial masyarakat. Dari kesepuluh orang kusta tersebut hanya satu yang kembali untuk berterimakasih dan mengucap syukur kepada Tuhan Yesus, yaitu orang Samaria. Fakta yang menarik dari cerita ini adalah yang kembali justru bukan orang Yahudi tetapi orang Samaria, dimana orang Samaria adalah golongan yang dianggap rendah pada saat itu. Dengan adanya orang Samaria di antara kesepuluh orang kusta menegaskan bahwa kasih Tuhan Yesus tidak terbatas oleh golongan tertentu. Meskipun sebagai seorang Samaria, ia dianggap rendah, hal itu tidak membuatnya lupa akan kebaikan Tuhan Yesus yang telah menyembuhkannya. Berbeda dengan kesembilan orang yang lainnya, yang mungkin mereka sedang terbawa sukacita dan kebahagiaan sehingga lupa kepada Tuhan Yesus.
Melalui bacaan ini, ada beberapa hal yang dapat kita petik untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, dalam kehidupan sehari-hari janganlah kita hanya berfokus untuk mencari berkat-berkat Tuhan saja, tetapi marilah kita berfokus untuk mencari Tuhan. Kedua, marilah kita terus melatih diri untuk mampu mengucap syukur dalam segala hal. Ketiga, kiranya berkat-berkat Tuhan yang kita terima senantiasa membuat kita semakin dekat dengan Tuhan bukan sebaliknya. Amin. [DAR].
“Biasakanlah untuk berterimakasih!”