Bacaan: Ayub 25 : 1 – 26 : 14 | Pujian: KJ. 439
Nats: “Sesungguhnya, semuanya itu hanya ujung-ujung jalan-Nya; betapa lembutnya bisikan yang kita dengar dari-Nya! Siapa yang dapat memahami guntur kuasa-Nya?” (26:14)
Pernahkah saudara memperhatikan langit cerah di malam hari? Jika pernah, pastilah kita akan kagum atas kebesaran Allah yang menciptakan alam semesta. Ketika terlihat dengan jelas, langit yang terbentang luas, rembulan yang bersinar terang serta berjuta bintang yang berkelip di angkasa, maka sejatinya manusia hanyalah ciptaan kecil yang tidak dapat dibandingkan dengan besarnya kuasa Allah. Kekuatan, pencapaian, dan kemampuan manusia sejatinya hanyalah setitik debu jika dibandingkan dengan kebesaran Allah. Maka dalam hidup ini yang perlu disadari ada kekuasan yang lebih besar daripada kekuatan manusia itu sendiri.
Bacaan saat ini menceritakan percakapan antara Bildad dan Ayub tentang kebesaran Allah. Dalam sudut pandang Bildad, tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang benar di hadapan Allah, termasuk manusia. Bildad ingin menunjukkan betapa mulia dan besar kuasa Allah, akan tetapi ia terlewat untuk mengungkapkan bahwa ada pengharapan di dalam kebesaran Allah tersebut. Berbeda dengan Ayub yang menempatkan kebesaran Allah sebagai sumber pengharapan umat manusia. Ayub sepakat dengan pemahaman Bildad bahwa kebesaran Allah tidak tertandingi. Ia menyadari bahwa manusia dengan segala kekuatan dan kemampuaannya tidak mungkin memahami kebesaran Allah seutuhnya. Di sini, Ayub menghayati bahwa dengan kemahakuasaan-Nya, Allah hadir dalam setiap penderitaan manusia. Kehadiran Allah tersebut seharusnya dirasakan oleh manusia sehingga ia mampu menghidupkan kembali pengharapannya meskipun ia mengalami penderitaan. Dari Bildad dan Ayub, dapat ditemukan adanya perbedaan pendapat dalam menghayati kelemahan manusia dan kebesaran Allah.
Dari bacaan saat ini, dapat kita renungkan tentang bagaimana posisi kita di dalam kehidupan ini. Dimana manusia adalah ciptaan, sedangkan Allah adalah Sang Pencipta, yang kuasa-Nya jauh lebih besar daripada manusia. Maka sudah selayaknya kita sebagai ciptaan Allah memiliki sikap rendah hati, terlebih di hadapan Allah. Demikian pun, kita patut untuk percaya bahwa Allah akan senantiasa hadir dalam segala kondisi kehidupan yang kita alami, baik saat suka maupun duka. Kebesaran Allah yang kita hayati menjadi sarana bagi kita untuk membangkitkan pengharapan kita di saat mengalami pergumulan dan penderitaan, sebagaimana yang dialami dan dirasakan oleh Ayub. Amin. [DAR].
“Kebesaran Allah adalah sumber pengharapan manusia.”