Bacaan: Kejadian 7 : 1 – 24 | Pujian: KJ. 367 : 1, 4
Nats: “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” (Ayat 1)
Kisah Nenek Pakande adalah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan. Konon, Nenek Pakande suka memakan daging anak-anak. Ia berkeliling mencari mangsa saat hari mulai gelap. Demi keselamatan, menjelang petang anak-anak diminta segera masuk rumah oleh orang tua mereka. Jika tidak menurut, mereka bisa dimangsanya.
Ketika air bah akan menenggelamkan semua yang hidup, Allah memberi perintah agar Nuh masuk ke dalam bahtera bersama keluarga dan beberapa pasang binatang. Malapetaka itu sebagai buah dari tindakan manusia yang penuh dengan kejahatan. Namun Allah berprakarsa menyelamatkan mereka dari kebinasaan. Perintah penuh rahmat agar Nuh masuk dalam bahtera adalah wujud nyata kasih setia Allah yang berkenan memberi kesempatan kepada umat-Nya untuk melanjutkan hidup dalam ketaatan. Di dunia yang semakin penuh kejahatan, Nuh menunjukkan ketaatannya kepada Allah. Meski ketika membuat bahtera seperti melakukan tindakan tidak masuk akal, bahkan ditertawakan, tetapi Nuh tetap berpegang pada apa yang difirmankan Allah kepadanya. Allah menyebutnya sebagai seorang yang dilihat-Nya benar, saleh, dan tidak bercela.
Kita patut bersyukur atas kasih setia Allah. Berulang kali Ia memperingatkan akan dosa kita melalui peristiwa-peristiwa menakutkan. Namun, Ia juga berprakarsa menyelamatkan kita dengan ajakan penuh rahmat untuk masuk dalam “bahtera”, agar kita terserap dalam karya keselamatan melalui pengorbanan-Nya. Tuhan tahu bahaya maut telah mengintai kita karena dosa kita dihadapan-Nya. Meskipun kita tidak seperti Nuh yang benar di hadapan Allah, namun kasih dan sabar-Nya nyata kepada kita. Tak dibiarkan-Nya kita binasa karena ketidaktaatan dan ketidaksetiaan kita. Menghayati kasih setia Allah, maka kerinduan untuk semakin taat dan setia menjadi wujud syukur kita yang sesungguhnya. Ketika kita terluput dari malapetaka oleh karena peringatan-Nya, mari kita mensyukuri untuk kesempatan demi kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Mari kita memperbaharui kehidupan kita menjadi semakin seturut kehendak-Nya, sehingga hidup kita menjadi persembahan yang kudus dan berkenan bagi Tuhan. Amin. [wdp].
“Jadikan hidup sebagai perayaan syukur atas kasih setia dan karya keselamatan Allah”