Bacaan: 1 Yohanes 3 : 11 – 18 ǀ Pujian: KJ. 429
Nats: “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (Ayat 17)
Masih ingatkah kita ketika kita belajar naik sepeda roda dua? Apakah yang kita lakukan agar bisa naik sepeda dengan lancar, tidak mudah jatuh dan menabrak sesuatu? Ya, kita berlatih menaiki sepeda setiap ada kesempatan tanpa mengenal lelah. Kita berusaha keras serta terus belajar menaikinya agar lancar bersepeda. Meskipun mungkin kita jatuh berkali-kali dan mengalami cedera, semua itu tidak membuat kita patah semangat untuk berlatih bersepeda. Keinginan kita agar dapat bersepeda dengan lancar mengalahkan rasa sakit akibat jatuh dari sepeda.
Melalui nats firman Tuhan hari ini, Rasul Yohanes memberikan nasihat yang bijak bagi jemaat yang digembalakannya. Dia mengingatkan agar setiap umat Tuhan memiliki kepedulian terhadap saudaranya yang menderita kekurangan. Dia mengajak umat Tuhan untuk mau berbagi dengan sesamanya. Hidup tidak hanya untuk memikirkan diri sendiri, tetapi turut memikirkan keberadaan sesama di sekitarnya.
Seperti halnya orang belajar naik sepeda, kepekaan untuk berpihak pada orang yang menderita perlu dilatih secara terus menerus agar batin kita terasah, sehingga kita menjadi orang yang mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain. Latihan untuk peka pada penderitaan orang lainnya perlu dilakukan sejak dini. Sejak anak-anak sudah dilatih untuk melihat penderitaan orang lain. Salah satu cara melatihnya adalah dengan mengajak anak-anak ke panti asuhan atau panti jompo. Anak-anak butuh pengalaman berjumpa dengan orang yang menderita secara langsung, bukan sekedar melalui foto-foto atau video-video hasil kunjungan. Anak-anak butuh pengalaman nyata dan orang dewasa perlu memberikan pengalaman yang demikian. Maka sekarang, perlu bagi para orang dewasa untuk mengubah mindsetnya bahwa anak-anak itu tidak merepotkan. Anak-anak juga berhak mendapatkan kesempatan untuk melatih diri agar peduli dengan sesamanya. Jika sejak dini, anak-anak sudah dilatih kepeduliannya pada orang yang menderita, maka saat mereka dewasa, kepekaan mereka pada orang yang menderita akan semakin terasah. Amin. [pipin].
“Kepekaan hati untuk peduli pada yang menderita adalah latihan seumur hidup dan dimulai sejak dini.”