Bacaan: Ayub 36 : 24 – 33 | Pujian: KJ. 440
Nats: “Sesungguhnya, Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita, jumlah tahun-Nya tidak terselidiki.” (Ayat 26)
Badai merupakan istilah simbolis yang melambangkan kehidupan yang diwarnai dengan persoalan atau masalah. Saat manusia menghadapi badai kehidupan, pada kenyataannya ada beragam respons yang ditunjukkan, seperti: bersungut-sungut, marah kepada Tuhan, mengutuki Tuhan atau bahkan putus asa. Dalam kenyataan hidup kita menunjukkan bahwa yang namanya badai itu pasti selalu ada mewarnai kehidupan kita. Tidak ada kehidupan yang tanpa badai, sekecil apapun badai itu. Namun saat kita sedang menghadapi badai kehidupan, mungkinkah kita dapat menyaksikan kasih dan kuasa Tuhan?
Bacaan kita pada saat ini merupakan bagian dari perkataan Elihu, sahabat paling muda dan bijaksana di antara ketiga sahabat Ayub yang lain. Dalam perkataannya Elihu melukiskan kebesaran Allah melalui alam ciptaan-Nya. Ia mengajak Ayub untuk melihat badai bukan sebagai ancaman tetapi sebagai sebuah pesan. Guntur, kilat, hujan, dan angin bukan sekadar fenomena alam saja, melainkan simbol Allah sedang berbicara. Seperti bunyi guntur yang menggelegar dari langit, demikian pula suara Tuhan menggoncangkan batin manusia. Ada keindahan sekaligus kedahsyatan Allah dalam menyatakan diri-Nya. Dibalik awan tebal, hujan deras, dan kilat yang menyambar, Allah tidak diam. Dia ‘hadir’ dan justru melalui badai-badai itu, Ia berbicara lebih kuat. Maka penderitaan pun menjadi ‘alam’ yang mendidik kita, bukan sekadar derita tetapi juga sarana untuk kita merenung dan bertumbuh.
Penderitaan seringkali menyebabkan kita menjadi apatis atau bahkan memberontak kepada Tuhan. Maka pada saat ini, kita diundang untuk bergeser dari pertanyaan, “Mengapa ini harus terjadi padaku?” menjadi “Apakah yang Tuhan nyatakan melalui peristiwa ini?” Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah tinggal diam. Ia menyatakan kehendak-Nya melalui segala sesuatu seturut hikmat-Nya sekalipun dalam derita yang kita alami. Mari kita tetap setia kepada Tuhan, selalu bersandar pada-Nya. Yakinlah ada pelangi kehidupan yang indah, setelah kita mampu melewati badai kehidupan kita bersama Tuhan. Amin. [JJ].
“Dibalik hujan pasti ada pelangi; dibalik kerang ada mutiara; di balik badai pasti ada makna kehidupan yang bisa kita dapat – di mana di dalamnya ada karya Tuhan yang menyertai umat-Nya.”