Fokus Memandang Tuhan Renungan Harian 11 Maret 2018

Bacaan: Bilangan 21:4-9 | Nyanyian: KPK 264
Nats:
“Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.” (ayat 9)

Kalau ada orang yang ber-Tuhan melakukan kejahatan, pasti dia lupa kepada Tuhan, tidak memandang atau tidak mau memandang kepada Tuhan. Dia hanya fokus pada diri sendiri, fokus pada keinginan diri untuk menjadi nyaman, enak, nikmat. Jika ada orang yang memandang kepada Tuhan tetapi fokus pada keinginan diri untuk menjadi nyaman, enak dan nikmat, dia akan protes kepada Tuhan dan hambaNya jika dia tidak mengalami kenyamanan dan kenikmatan dalam hidupnya.

Itulah yang dialami oleh bani Israel di padang gurun. Mereka marah kepada Musa dan berkata-kata melawan Tuhan. “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.” (ay. 5). Mereka hanya fokus pada kenikmatan roti dan air, dan muak dengan ketidaknikmatan -walau pun belum lama mereka mengalaminya dan tidak akan selamanya. Karena itu mereka mengalami penderitaan yang lebih besar, bahkan kematian oleh pagutan ular tedung.

Setelah mencapai puncak penderitaan, mereka bertobat. Untuk dapat tetap hidup, mereka harus memandang kepada ular tembaga yang dipasang oleh Musa atas perintah Tuhan. Itu berarti mereka harus fokus pada kehendak dan karya kuasa dan kasih Tuhan. Mereka harus meninggalkan fokus diri untuk menjadi nyaman, enak dan nikmat.

Di masa Pra Paskah ini kita diingatkan untuk selalu memandang kepada Tuhan Yesus dalam sepanjang hidup kita, fokus pada karya, kuasa, kasih dan kehendakNya. Kita diingatkan untuk tidak fokus pada keinginan daging yang menyesatkan dan akhirnya menyengsarakan. Mari kita mengosongkan diri dari keinginan selalu nyaman, enak dan nikmat! Percayalah justru dengan begitu, kita akan diberi keselamatan, kehidupan dan kenikmatan hidup yang benar dan yang sejati. [st]

“Fokus pada keinginan diri untuk nikmat menjerumuskan diri pada maksiat.”

 

Bagikan Entri Ini: