Bersandar Pada Tuhan Pancaran Air Hidup 10 Juni 2022

Bacaan: Amsal 3 : 19 – 26 | Pujian: KJ. 309
Nats:
“Karena TUHAN-lah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.” (Ayat 26).

Pernah suatu saat saya pergi ke suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi. Saat itu saya berada di sebuah persimpangan jalan yang tanda petunjuknya sudah tidak terbaca lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti feeling (perasaan) saya. Padahal waktu itu saya membawa handphone yang bisa mengakses aplikasi pencari alamat. Namun saya tetap mengikuti feeling saya. Tentu anda sudah bisa menebak apa yang terjadi? Ya! Saya tersesat, masuk ke pemukiman rumah yang padat dan jalan yang saya lalui semakin sempit. Semakin saya lanjutkan perjalanan, semakin saya merasa tersesat. Alhasil saya berhenti dan bertanya kepada orang di sekitar situ. Bersyukur, dengan mengikuti arahan yang diberikan saya bisa sampai di tempat tujuan. Berbicara tentang tersesat, pernahkan anda tersesat menentukan jalan hidup anda? Mana yang anda utamakan? Feeling atau hikmat dari Tuhan?

Melalui bacaan hari ini penulis kitab Amsal menegaskan kepada para pembaca bahwa pertimbangan dan hikmat dari Tuhan senantiasa menuntun kepada jalan kebenaran. Dengan memegang hikmat dari Tuhan, seseorang akan menjalani hidupnya dengan aman dan penuh damai. Hal ini digambarkan melalui frasa: “kakimu tidak akan terantuk, engkau tidak akan terkejut, engkau akan berbaring dan tidur nyenyak, menghindarkan kakimu dari jerat.” Sungguh kehidupan setiap orang di dalam Tuhan dengan hikmat-Nya penuh jaminan. Namun, bagian akhir dari perikop ini menjadi catatan penting bagi pembaca. Dikatakan bahwa: “Karena TUHANlah yang menjadi sandaranmu” (ay. 26), itu berarti semua jaminan di atas hanya mungkin terjadi bagi setiap mereka yang bersandar pada Tuhan. Dengan kata lain setiap orang harus menempatkan TUHAN sebagai yang utama dalam hidupnya, bukan pengertiannya sendiri.

Perjalanan hidup orang beriman tentu membutuhkan pertimbangan dan hikmat dari Tuhan, supaya yang menjadi dasar bukan pengertiannya sendiri. Sebab seringkali pengertian kita sendiri memang tidak bisa diandalkan, kecuali berhenti dan menemukan jawaban yang pasti dan terjamin. Dan itu semua hanya ada di dalam Tuhan, maka bersandarlah pada-Nya. Amin. [TpJ].

“Bersandarlah pada yang pasti-pasti saja!”

 

Bagikan Entri Ini: