Duduk Sama Rendah, Berdiri Sama Tinggi Pancaran Air Hidup 10 Juli 2022

Bacaan: Lukas 10 : 25 – 37 ǀ Pujian: KJ. 424 : 2, 3
Nats:
“Dan siapakah sesamaku manusia?” (Ayat 29b)

Mungkin kita pernah mendengar peribahasa “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.” Peribahasa ini berarti suatu keadaan yang adil, imbang atau setara. Mungkinkah peribahasa ini diterapkan dalam hubungan antara orang tua dengan anak? Jangan-jangan selama ini dalam benak kita sudah tertanam anggapan bahwa anak itu memiliki kedudukan yang lebih rendah, lebih lemah dibandingkan dengan orang tua. Karena itu, bisa jadi dari anggapan ini muncullah pola asuh atau pendampingan yang otoriter terhadap anak. Sebagai orang tua, mungkin seringkali kita memaksakan keinginan kita kepada anak-anak kita dan menjadikan mereka seperti keinginan kita, sehingga tanpa sadar kita sudah mengabaikan hak-hak anak-anak kita.

Melalui jawaban Tuhan Yesus atas pertanyaan ahli Taurat tentang, “Siapakah sesamaku manusia?” kita bisa mengetahui bahwa Tuhan menghendaki agar kita menunjukkan cinta kasih, tidak terbatas hanya untuk sesama menurut pikiran kita saja, yaitu orang-orang yang satu golongan, ras, agama, bangsa, dan yang satu ide. Atau kepada orang-orang yang kuat, orang-orang yang menguntungkan keberadaan kita, yang bisa membuat kita senang. Cinta kasih itu harus ditunjukkan melalui kepedulian dan perhatian kita bagi siapa pun yang membutuhkan, dengan tidak dibatasi oleh sekat-sekat apa pun, bahkan tidak boleh dikalahkan oleh berbagai aturan atau hukum yang sebenarnya diciptakan oleh manusia sendiri. Supaya hal tersebut bisa kita lakukan, maka kita harus mengubah pola pikir kita. Jangan seperti ahli Taurat yang bertanya, ”Siapakah sesamaku manusia?” melainkan kita harus memiliki kesediaan untuk menjadi sesama manusia bagi siapapun, terlebih mereka yang “lemah”, seperti yang dilakukan oleh orang Samaria dalam perumpamaan Tuhan Yesus tadi.

Bersedia menjadi sesama, termasuk bagi anak-anak dapat mendorong kita untuk mewujudkan kasih kepada semua orang dan menempatkan anak-anak sejajar dengan kita para orang tua. Hal ini dapat membuat kita baik orang tua maupun gereja tidak semau gue dalam mendidik dan mendampingi anak dalam pertumbuhannya. Kita dapat belajar menghormati dan memperhatikan hak-hak mereka. Mari kita membangun relasi dan komunikasi yang akrab dan baik dengan anak-anak kita, sehingga melalui perhatian dan kasih sayang yang kita berikan, anak-anak kita semakin mengenal dan berbakti kepada Tuhan dan orang tua. Amin. [nn].

“Tuhan Yesus saja bersedia menempatkan anak pada posisi yang mulia dengan menjadikan mereka sebagai teladan iman (bdk Mat. 18:1-5), masak kita enggak?”

 

Bagikan Entri Ini: