Bacaan : Ayub 6 : 1 – 13 | Pujian : KJ. 84 : 1
Nats: “Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?” (Ay. 11)
Saya mengenal seorang warga gereja yang hidupnya tertib. Kegiatannya sehari-harinya sangatlah teratur. Mulai kesibukan rumah tangga, kerja, kegiatan kampung sampai hobi dan ibadah. Mengamati kehidupannya yang seperti itu, saya menaruh simpati dan kagum kepadanya. Menurut saya, orang lainpun segan dan hormat kepadanya. Sifatnya yang tidak banyak bicara dan suka menolong orang lain membuat saya berpendapat bahwa dia adalah orang baik dan kuat imannya. Bertahun-tahun saya mengenal dia, sehingga saya terbiasa dengan semua kebaikannya itu. Memang di dunia ini ada macam-macam manusia dengan segala sifatnya. Ada orang yang baik, ada yang jahat, ada yang tertib, ada yang sembarangan, ada yang maju, ada juga yang terbelakang. Mungkin kita menggolongkan diri kita sendiri sebagai orang yang biasa saja.
Pikiran saya sedikit terusik ketika mengetahui warga gereja yang hidupnya tertib tersebut, jatuh sakit. Dia memang sakit parah dan menanggung rasa sakit yang luar biasa. Yang membuat saya terusik adalah kata-katanya. Ungkapan-ungkapan hatinya sungguh tidak menggambarkan orang yang kuat imannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya menggambarkan bahwa dia tidak percaya kepada orang di sekelilingnya. Dia curiga bahwa orang sudah tidak mencintai dia lagi, bahkan mau mencelakai dia. Apakah ini gambaran bahwa dia juga curiga apakah Tuhan masih mencintai dia? Pernahkah saudara melihat dan mendengar orang mengucapkan kata-kata putus asa, tidak percaya kepada siapapun, tidak percaya kepada Tuhan karena tekanan penderitaannya yang sangat?
Ayub berada dalam situasi seperti itu. Dia adalah gambaran orang dalam penderitaan yang luar biasa. Kesengsaraannya yang bertubi-tubi memang godaan untuk menggugurkan imannya. Ayub dalam imannya sadar bahwa kata-katanya bisa tidak terkendali ketika penderitaannya sudah tidak tertanggung lagi. Namun ada satu kesadaran utama yang patut dicontoh dari Ayub. Dia tidak mau mengatasi masalahnya sendirian. Ketika dia senang, dia bersama Tuhan. Ketika dia hampir mati, dia juga bersama Tuhan. Ayub meyakini bahwa Tuhan mencintainya. Bagaimana dengan saudara? (DLS)
“Roh yang ditiupkan Tuhan itu yang menjadikan seorang manusia”