Menjawab Doa

Bacaan : Yehezkiel 47 : 1 – 12 | Pujian: KJ 424 :1
Nats: “…tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu…” [ayat 12]

Ada seorang ibu bernama Heni yang bercerita kepada saya, bahwa pada suatu siang, ada suara di dalam hatinya yang memaksanya untuk mengunjungi seorang ibu bernama Mona yang menjadi seorang pengasuh sebuah panti asuhan anak yatim-piatu. Keduanya sudah 5 tahun tidak pernah bertemu. Namun hari itu, karena bisikan batin yang begitu kuat, dia datang berkunjung ke rumah ibu Mona. Begitu dia datang, ibu Mona menyambutnya dengan menangis. Di tengah isakannya, ibu Mona bercerita bahwa bahan makanan di panti asuhan itu sudah habis sejak pagi tadi, dan sejak itu pula dia berdoa memohon agar Tuhan mengirimkan malaikat untuk menyelamatkan mereka semua. Dia berkata “Terpujilah Dia, sebab saya yakin kamu adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk menyelamatkan kami.” Ibu Heni lalu cepat-cepat mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan meminta agar ibu Mona segera membelikan bahan pangan bagi seluruh penghuni panti. Ibu Heni lalu berkata kepada saya, “Sering saya bertanya kepada Tuhan, mengapa Dia sering tidak menjawab doa saya. Tapi di hari itu, Tuhan ijinkan saya menghayati bahwa saya tidak boleh selalu menuntut Tuhan menjawab doa saya, tetapi juga menyediakan diri saya sebagai jawaban doa bagi mereka yang memohon kepadaNya.”

Menjadi berkat bagi sesama, atau menjadi jawaban bagi doa orang lain, adalah seindah penglihatan yang diterima oleh Yehezkiel. Ketika Israel dipulihkan dengan gambaran yang luar biasa indahnya, bersama dengan itulah Israel diutus untuk menjadi berkat bagi banyak bangsa.

Begitu pun kita. Ketika Kristus telah memulihkan kita sebagai ciptaan yang baru dan sebagai pemegang janji keselamatan, seraya itu pula Kristus mengutus kita untuk mau menjadi jawaban atas doa orang lain yang membutuhkan pertolonganNya. Menuntut jawaban doa, haruslah setara dengan merelakan diri menjadi jawaban doa bagi orang lain. [cahyo_s]

“Hidup adalah pemberian, hargailah.
Hidup adalah cinta, terimalah dan berilah.
Hidup adalah perjuangan, tuntaskanlah.”
(Dr. Andar Ismail)

 

Bagikan Entri Ini: