Mempersiapkan Diri

Bacaan : Lukas 8 : 4 – 10  |  Pujian: KJ 466a
Nats: “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.”[ayat 10]

Suatu ketika terjadi percakapan di antara dua orang petani, sebut saja namanya Pak Tanem dan Pak Tandur. Pak Tandur mengeluh bahwa hasil panennya tidak begitu baik. Sementara itu Pak Tanem malah dapat memperoleh hasil panen yang maksimal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Pak Tandur merasa heran, karena benih yang dipergunakan adalah sama dengan yang dipakai oleh Pak Tanem, bahkan pupuk yang digunakan sudah sesuai dengan aturan pemupukan. Lalu ia berusaha mencari tahu kepada Pak Tanem apa kira-kira hal yang tidak dilakukannya sehingga hasil panennya kalah dengan pak Tanem.

Setelah berdiskusi, barulah ia tahu bahwa selama ini Pak Tanem juga menggunakan pupuk organik untuk memelihara kualitas tanah miliknya. Menurut Pak Tanem penggunaan pupuk kimia lambat laun akan menurunkan kualitas tanah yang menjadi media tumbuhnya tanaman. Dengan menggunakan pupuk organik maka kualitas tanah dapat dipulihkan kembali sehingga hasil panenan akan tetap terjaga.

Setiap orang Kristen tentu juga berharap agar kualitas iman dan spiritualnya dapat tumbuh dengan baik. Ibarat tanah, maka sebenarnya kitapun juga harus mau mengolah iman dan spiritualitas kita dengan sebaik mungkin. Bagaimana mungkin kita dapat mengharapkan hasil yang terbaik bila kita tidak mau mengolah atau mempersiapkan diri kita? Apakah iman dan spiritualitas dalam kehidupan kita akan dapat tumbuh dan berbuah dengan sendirinya? Kehidupan iman dan spiritualitas setiap pribadi Kristen ibarat tanah yang harus senantiasa diolah dan dirawat. Benih yang ditaburkan oleh Tuhan kepada semua orang adalah sama kualitasnya. Namun apabila ia jatuh di tempat yang kurang baik maka ia akan sulit  bertumbuh. Jadi, merawat/ mempersiapkan diri adalah perlu, agar anugerah Allah dapat tumbuh dan membuahkan hasil yang maksimal, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. [DK]

“Iman hidup dengan perjuangan, bukan dengan kidungan.” (Madame de Stael)

 

Bagikan Entri Ini: