Jangan Lupa Bahagia

Bacaan: Amsal 11:23-31 |  Pujian: KJ 46:1,2.
Nats
: “Keinginan orang benar mendatangkan bahagia semata-mata….” (ayat 23)

 Semua orang ingin kehidupannya berbahagia. Hampir tidak ada orang yang bermimpi untuk mengalami penderitaan. Akan tetapi hal inilah yang justru membuat banyak jiwa yang mengaku percaya kepada Kristus sekalipun, tidak cukup tangguh menghadapi penderitaan hidup yang datang tanpa permisi. Namun Kitab Amsal memberikan pengajaran kepada kita untuk senantiasa mengerjakan kehidupan yang benar supaya kebahagiaan bisa dirasakan dalam kehidupan kita.

Keinginan orang benar mendatangkan bahagia… Demikian juga ketika orang benar sedang menghadapi situasi yang membuatnya merasa sangat bersedih, kecewa,  putus asa, terpuruk, dan sangat menderita. Orang benar adalah setiap kita yang bersedia memikir-mikirkan, menyimpan dalam hati, mengatakan, dan melakukan segala sesuatu sesuai kehendak Firman Allah. Namun bukan berarti orang benar pun akan selalu hidup dalam segala kemudahan. Tetapi orang benar akan dimampukan Allah untuk senantiasa mempunyai cara untuk tetap merasakan kebahagiaan (damai sejahtera) meski ia sedang mengalami situasi yang buruk.

Maka untuk sampai pada kebahagiaan hidup, umat manusia perlu memperjuangkan diri untuk menjadi orang benar. Kebahagiaan itu berasal dari apa yang kita pikirkan, kita simpan dalam hati, kita katakan, dan kita lakukan. Baiklah semuanya berdasarkan kebenaran firman Tuhan. Maka saat penderitaan hidup datang menghampiri, kita bisa tetap memikirkan bahwa rancangan Tuhan bagi umatNya adalah rancangan kebaikan. Saat kesedihan melanda kehidupan manusia, kita bisa tetap menyimpan dalam hati segala anugerah dan kebaikan Tuhan di sepanjang hidup kita. Saat kegagalan melanda hidup kita, maka perkataan kita tetaplah perkataan yang memuliakan Tuhan. Dan saat dalam situasi hidup terpuruk sekalipun, kita bisa tetap bersedia melakukan semua hal yang seturut Firman Allah, maka di sanalah terletak kebahagiaan itu. Sebagai orang-orang yang benar, selamat berbahagia, kini dan nanti. [dee]

 “Ketika orang benar sedang terpuruk, ia selalu menemukan cara untuk tetap merasakan kebahagiaan hidup.”

 

Bagikan Entri Ini: