Jangan Bersungut-sungut!

Bacaan: Keluaran 16: 2-15 |   Pujian: KJ 450
Nats:
“Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun, dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” (ayat 2-3)

Bersungut-sungut adalah reaksi spontan yang timbul karena ketidakpuasan, kekecewaan, ataupun kekesalan yang timbul akibat apa yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena ketidakmampuan mengatasi kekecewaan dan ketidakpuasan, maka timbulah reaksi bersungut-sungut. Reaksi ini biasanya dimiliki oleh pribadi yang kurang bersyukur atau tidak pernah bersyukur. Karenanya sikap dan response selalu negatif.

Bangsa Israel terlihat bersungut-sungut manakala dalam pengembaraan mereka saat keluar dari mesir menuju tanah perjanjian menemui tantangan dan halangan. Lalu mereka membandingkan situasi saat itu dengan situasi sebelumnya saat mereka dalam penindasan Mesir. Kebiasaan ini sebenarnya adalah sebuah kebiasaan yang tidak baik, yakni membanding-bandingkan sebuah situasi saat ini dengan situasi sebelumnya, karena akan meperkeruh suasana hati bangsa Israel sehingga mereka kehilangan rasio akal sehat.

Dalam kehidupan bergereja dan bersekutu seringkali kita merasakan hal yang seperti itu. Pergantian Pendeta terkadang membawa gejolak dalam kehidupan persekutuan. Kondisi itu akan semakin keruh manakala ada pribadi-pribadi yang suka membanding-bandingkan situasi saat ini dengan situasi yang lalu. Dianggapnya sosok yang sekarang kurang berkualitas dibandingkan yang sebelumnya. Jika ini terus terjadi maka ada potensi gejolak yang tidak kecil yang pada akhirnya menghambat kita dalam membangun persekutuan di GKJW yang kita cintai ini.

Mari mengatasinya dengan menjadi pribadi yang selalu bersyukur tanpa membanding-bandingkan situasi saat ini dengan yang lalu. Manakala kita mampu menerima dengan pribadi yang baru tentu membawa situasi yang baru. Tak perlu terlalu reaktif dalam menyikapinya. Terimalah saja dengan syukur dan doa, karena Tuhan pasti punya rencana yang terbaik atas persekutuan kita. (Oka)

“Koreksi adalah upaya untuk memperbaik bukan merusak”

 

Bagikan Entri Ini: