Pemahaman Alkitab September 2018

September I

Bacaan          : Yesaya 30 : 27-33
Tema Liturgi   : Tekun Bergumul dengan Firman Tuhan dan Melakukan dalam Kehidupan
Tema PA         : Allah Menghukum atau Menyelamatkan ?

 

Berbagi Pendapat dan Pengalaman

Pendalaman Alkitab ini sebaiknya dibuka dengan sesi berbagi pendapat dan pengalaman mengenai Tema PA. Warga/peserta diajak untuk menggali tema PA secara kritis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan masing-masing.

Adapun beberapa pertanyaan yang dapat diajukan antara lain :

  1. Pernahkan saudara memiliki pengalaman yang saudara rasakan sebagai hukuman dari Tuhan? Pengalaman yang seperti apakah itu?
  2. Pernahkan saudara memiliki pengalaman yang saudara rasakan sebagai penyelamatan dari Tuhan? Pengalaman yang seperti apakah itu?
  3. Saudara lebih suka menghayati Tuhan sebagai Tuhan yang menghukum atau Tuhan yang menyelamatkan? Mengapa?
  4. Apa dampak penghayatan tersebut bagi saudara?

{Catatan : Tugas dari pemimpin PA adalah mengarahkan diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut (atau bisa juga dengan tambahan pertanyaan yang lain), untuk menggali penghayatan dan pengertian warga/peserta mengenai tema PA. Dalam akhir sesi ini, pemimpin PA dapat merangkum seluruh pendapat yang telah dibagikan oleh warga/peserta.}

Gambaran proses diskusi mengenai pengertian dan penghayatan tema PA :

Ada kalanya Allah dihayati sebagai Allah yang pemarah dan tega menghukum. Biasanya yang menjadi rujukan adalah cerita-cerita dalam Perjanjian Lama ketika Allah menimpakan tulah, penyakit dan kemalangan lain kepada orang/pihak/bangsa yang melakukan hal yang jahat dan tidak berkenan di matanya.

Dengan demikian, ketika diminta untuk menceritakan pengalaman mengenai hukuman Allah, kita sering menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan dan menyedihkan sebagai upah atas kesalahan kita. Allah digambarkan sebagai sosok yang selalu melihat dan memperhatikan gerak-gerik kita dan siap menghukum ketika kita melakukan kesalahan. Allah menjadi sosok yang menakutkan. Sehingga, hal-hal baik yang kita lakukan hanya karena takut mendapatkan hukuman dari Tuhan.

Sebaliknya, Allah yang menyelamatkan biasanya diasosiasikan pada Perjanjian Baru. Apa yang Ia lakukan dalam diri Yesus Kristus membuat orang Kristen menghayati betapa murah dan pengasih-Nya Allah itu. Memberikan keselamatan kepada manusia bahkan melalui cara yang begitu sulit dan menyakitkan.

Ketika diminta untuk menceritakan pengalaman mengenai penyelamatan Allah, biasanya pengorbanan Yesus inilah yang diceritakan. Penghayatan akan perbuatan Yesus yang menghancurkan dosa dan membatalkan hukuman yang seharusnya diterima manusia. Atau mungkin juga menceritakan mujizat-mujizat yang pernah terjadi seperti terhindar dari bahaya, kesembuhan, dan sebagainya. Allah yang menyelamatkan dipandang sebagai Allah yang penuh kasih dan sayang kepada manusia. Bahkan kadang-kadang kasih Allah yang begitu besar itu yang membuat kita sangsi apakah Allah benar-benar menghukum. Jika penghayatan semacam ini berkembang, dapat mengakibatkan manusia menyepelekan kasih Allah. Menjadi tidak hormat, sehingga dengan santai dan bebas, melakukan hal-hal yang tidak berkenan dihadapan-Nya.

 

Pembacaan dan Penafsiran Teks

Setelah berdiskusi, ajaklah warga/peserta untuk membaca Yesaya 30 : 27-33. Setelah membaca, pemimpin PA dapat kembali bertanya kepada warga :

“Apa yang menarik dari bacaan ini yang berhubungan dengan diskusi kita sebelumnya?”

{Catatan : Setelah sedikit membahas bacaan bersama dengan peserta, pemimpin PA dapat menjelaskan teks secara lebih mendalam, dimulai dari menjelaskan konteks penulisan kitab Yesaya, melihat bagian-bagian yang terdapat dalam bacaan sehingga penafsiran dilakukan dengan lebih cermat.}

Kitab Yesaya adalah kitab terpanjang dari antara kitab nabi-nabi. Demikian juga latar belakang penulisannya melalui masa yang panjang, antara abad ke-8 SM sampai abad ke-6 SM. Oleh sebab itu, kitab ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Proto Yesaya ( pasal 1-39), Deutero Yesaya (pasal 40-55) dan Trito Yesaya (pasal 55-66). Bagian Proto Yesaya mengindikasikan masa bangsa Israel sebelum pembuangan, deutero Yesaya dialamatkan kepada bangsa Israel di dalam pembuangan sedangkan Trito Yesaya menunjukkan masa bangsa Israel pasca pembuangan.

Konteks Israel.Pada 930 SM, Israel terpisah menjadi dua. Kerajaan Israel Utara dan Kerajaan Israel Selatan. Kerajaan Israel Utara jauh lebih besar daripada Kerajaan Israel Selatan, sebab Israel Utara terdiri dari 10 suku Israel dan Israel Selatan terdiri dari 2 suku Israel. Pada sekitar tahun 745 sM, Asyur yang dipimpin oleh raja Tiglath Pileser III berambisi besar untuk mengadakan ekspansi yang menyebabkan negara Aram, Fenisia, Israel dan Yehuda, serta Mesir terancam.

Kerajaan Israel Utara dan dan Aram membentuk persekutuan militer untuk melawan Asyur. Sedangkan, raja Ahas dari kerajaan Yehuda (Israel Selatan) menolak persekutuan tersebut. Hal ini membuat Kerajaan Israel Utara dan Aram mengepung kota Yerusalem, pusat kerajaan Yehuda. Dalam keadaan yang terjepit demikian, Raja Ahas meminta bantuan dan perlindungan dari Kerajaan Asyur (nabi Yesaya menegor Raja Ahas mengenai keputusannya ini). Sampai akhirnya pada 721 SM kota Samaria (Israel Utara) jatuh. Israel Utara berhasil ditakhlukkan oleh Kerajaan Asyur dan sebagian besar penduduknya dibuang ke Asyur. Untuk sementara waktu, Kerajaan Yehuda aman sebab berada di bawah perlindungan (dan kekuasaan) Asyur.Namun lama kelamaan, Kerajaan Yehuda juga memiliki nafsu untuk memberontak dan meminta bantuan kepada Mesir (walaupun pada akhirnya pemberontakan mereka ini gagal).

Di dalam kitab Yesaya, Kerajaan Asyurdigambarkan dengan unik. Kerajaan ini dilihat dengan dua sudut pandang sekaligus, yang berbeda. Pada satu sisi, Asyur dihayati sebagai sarana yang dipakai Tuhan untuk menghukum kejahatan dan kemurtadan yang dilakukan Israel (lih Yes 10:5). Sehingga, kemenangan Asyur atas Israel dan Aram dilihat sebagai kehendak Tuhan dalam rangka memberikan hukuman tersebut. Tetapi di sisi yang lain, Asyur juga digambarkan sebagai bangsa yang sombong dan tidak berkenan di hadapan Allah (Yesaya 10:5-12), sehingga merekapun tidak luput dari hukuman Allah (lih Yes 10:7-19, 14:25, 30 : 30-33).

Secara khusus dalam Yesaya 30 : 27-33, menceritakan tentang bagaimana Allah akan menghukum dan menumpahkan murkaNya kepada Asyur. Asyur akan menerima murka Allah yang besar, mengejutkan dan membinasakan. Penghukuman atas Asyur ini terdapat dalam ayat 27-28, 30-33. Dalam ayat 33 dijelaskan betapa dasyatnya penghukuman Allah, yang membuat Asyur tidak mampu melepaskan diri. Dan Asyurpun lenyap. Murka Allah menghanguskannya seperti sungai belerang.

Sedangkan dalam ayat 29 tiba-tiba kembali berbicara kepada bangsa Yehuda, yang akan bersukacita dan bergembira. Penghukuman kepada Asyur itu membawa kelepasan dan pembebasan bagi bangsa Yehuda. Kegembiraan itu dihubungkan dengan perayaan dan perjalanan naik ke gunung Tuhan,  Gunung Batu Israel. Gunung Tuhan dalam hal ini sangat mudah dihubungkan dengan Bait Allah di bukit Sion. Sedangkan dalam Mazmur 18:3,31,47 Allah digambarkan sebagai Gunung Batu Israel, tempat perlindungan dan pengungsian yang kokoh dan aman. Dengan demikian Yesaya ingin mengingatkan bahwa keselamatan dan kebebasan yang mereka terima bukan karena pertolongan satu bangsa tertentu, tetapi pertolongan Allah sendiri.

 

Pembaruan/Pendalaman Penghayatan

Dengan pertolongan pembahasan perikop tersebut, kita kembali pada tema dan pertanyaan yang kita bahas di awal. Apakah Allah adalah Allah yang menghukum atau Allah yang menyelamatkan?(tanyakan kembali pertanyaan ini kepada warga/peserta PA)

Allah adalah Allah yang menghukum sekaligus Allah yang menyelamatkan. Bangsa Israel sungguh-sungguh mengalami hal tersebut. Dosa dan kejahatan yang dilakukan bangsa Israel membuatnya menerima hukuman dari Allah. Tidak tanggung-tanggung, Allah menyerahkan mereka untuk ditakhlukkan oleh bangsa Asyur. Hidup sebagai tawanan tentu saja bukanlah hal yang menyenangkan, bahkan sangat sulit dan berat. Dalam penghukuman itu, bangsa Israel disadarkan tentang kesalahan-kesalahan mereka yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dan yang membuat-Nya murka. Namun, di dalam murka dan penghukuman-Nya itu, Allah tetap adalah Allah yang membebaskan, yang menjanjikan keselamatan kepada umat-Nya. Hukuman yang diberikan Tuhan sejatinya juga adalah alat-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya dari kehancuran. Hukuman Allah bukan hukuman untuk membinasakan, tetapi hukuman untuk menuntun umat kembali kepada kebenaran.Dengan demikian, Allah adalah Allah yang penuh kasih, yang berusaha menyelamatkan manusia dengan berbagai cara, termasuk melalui sebuah hukuman.

Namun di sisi lain, apa yang terjadi kepada Asyur sungguh berbeda. Allah digambarkan memberikanhukuman yang membinasakan kepada bangsa ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, kitab Yesaya juga ingin memberitakan sisi Allah yang demikian. Allah yang menghukum bukan lagi sebagai wujud penyelamatan-Nya, tetapi untuk menumpas dan menghancurkan.

Lalu, penghayatan yang demikian mengenai Allah berdampak apa pada diri kita ?(kembali lontarkan pertanyaan kepada warga/peserta dan pergumulkan pertanyaan ini bersama-sama. Pada akhirnya pertanyaan inilah yang menjadi pusat perenungan dalam rangkaian PA ini)

Catatan pendukung : Menghayati Allah yang penuh kasih, menolong kita untuk menghayati rasa syukur di dalam hidup kita. Memiliki Allah Sang Sumber Keselamatan, menuntun kita untuk melihat kehidupan, keselamatan dan keberhasilan kita sebagai anugerah dari Tuhan. Menolong kita untuk senantiasa memohon perlindungan dan mengandalkan Dia saja, bukan yang lain.

Di sisi lain, kita tetap menghormati Allah dan tidak menyia-nyiakan kasih dan kesabaran-Nya sebab menyadari bahwa Allah juga bisa marah dan kecewa. Menghayati bahwa Allah juga adalah Allah yang menghukum menolong kita untuk lebih berhati-hati menjaga kehidupan kita sehingga senantiasa berjalan dalam kehendak-Nya.

Namun sebagai manusia tentu ada kalanya kita jatuh. Kita melakukan hal yang jahat di mata Tuhan, dan menerima hukuman. Dan dalam keadaan yang demikian, Allah yang menghukum juga bisa sekaligus dihayati sebagai Allah yang mengusahakan keselamatan kita. Sebab, hukuman Tuhan merupakan cara-Nya untuk mengembalikan kita kepada kehendak-Nya, cara-Nya untuk menunjukkan penyelamatan-Nya.

 

 

September II

 

1 Korintus 2:1-5
Bergumul dengan Firman Tuhan dan melakukan dalam kehidupan
“Jangan seperti Gajah diblangkoni!”

 

Keterangan Teks

Pergumulan jemaat Korintus adalah berkaitan dengan adanya pemahaman yang berkembang selain kekristenan yang dibawa oleh Paulus. Pemahaman tersebut memberikan penekanan pada kemampuan berfilsafat untuk mengukur kepintaran dan kemampuan berpikir seseorang. Paulus menyebutkan pemahaman yang demikian ini dengan istilah “hikmat manusia”. Nampaknya alasan penolakan jemaat Korintus terhadap ajaran Paulus adalah karena Paulus tidak menggunakan bahasa dan kemampuan verbal yang cukup tinggi untuk memberitakan Injil.

Pada dasarnya Paulus memang tidak berusaha untuk mengimbangi pemahaman yang berkembang dengan menggunakan bahasa yang tinggi (dibumbui dengan filsafat). Paulus justru menyampaikan ajarannya tentang Kristus dengan penuh kerendahan. Hal ini nampak dalam penjelasannya tentang bagaimana kedatangannya. Ia merasa lemah, sangat takut dan gentar (ay.3). Dalam hal ini Paulus justru ingin menunjukkan kepada jemaat bahwa dalam pemberitaan yang dilakukkanya, Paulus mengandalkan kekuatan dari Tuhan, yakni dengan keyakinan dan kekuatan Roh (ay.4). Pengakuan ini tentu dilakukan supaya iman jemaat Korintus tidak bergantung pada hikmat manusia (Paulus) melainkan pada kekuatan Allah.

Realita masa kini.

Ada istilah Jawa yang mengatakan: “Gajah diblangkoni- iso kotbah ora iso ngelakoni”. Artinya seseorang yang hanya bisa berbiacara tapi tidak bisa melakukannya. Frasa “kotbah” dalam istilah Jawa tersebut tidak hanya disempitkan kepada pengkotbah dalam ibadah-ibadah, melainkan dikenakan kepada siapa saja atau semua orang secara umum. Selaras dengan fakta yang terjadi dalam kehidupan kita, di mana berbicara memang selalu lebih mudah daripada bertindak. Seringkali kita menemukan orang-orang yang sangat mahir di dalam pemikiran-pemikiran dan mengungkapkannya dalam bentuk lisan, namun tidak mampu benar-benar menjalankannya sebagaimana yang mereka pikirkan. Dalam rapat-rapat majelis, rapat-rapat kepanitiaan dan banyak pertemuan lainnya kita seringikali berjumpa dengan orang-orang yang demikian. Sayangnya, terkadang orang-orang yang tidak banyak bicara dan bekerja dengan rendah hati justru menghasilkan sesuatu yang menjadi berkat daripada sekedar pemikiran yang hebat tapi tanpa tindak lanjut.

Penerapan

Belajar dari Paulus yang melawan pemahaman yang berkembang di jemaat Korintus, bukan dengan cara yang seimbang (dibumbui dengan filsafat) melainkan dengan kerendahan hati. Paulus yang membawa ajaran tentang Kristus, menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan hanya kekuatan dan kemampuan yang berasal dari Allah. Maka sudah seharusnya pertumbuhan iman jemaat dan iman kita tumbuh tidak bergantung pada hikmat manusia melainkan kebenaran yang datang dari Allah. Di samping itu, pertumbuhan iman seseorang tidak hanya ditentukan oleh sejauh mana kemampuannyamemahami Firman Tuhan, melainkan juga sejauh mana mereka benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  • Sebagai umat Tuhan yang sering bergumul dengan firman Tuhan, sudahkah kita mewujudkan atau merealisasikan hasil refleksi kita dalam kehidupan kita sehari-hari? Jika sudah sharingkan atau bagikan pengalaman anda! Jika belum, sebutkan kendala-kendala apa saja yang menghambat!
  • Menurut anda, bagaimana cara mewujudkan hasil refleksi kita, sehingga proses pertumbuhan iman kita bukan hanya sampai pada bergumul terhadap friman Tuhan melainkan melakukannyadalam kehidupan sehari-hari?
 

Bagikan Entri Ini: