Pemahaman Alkitab Agustus 2018

Agustus I

 

Bersekutu dengan Kristus dan berbagi berkat dengan sesama

 

Bacaan: 1 Samuel 28: 20-25

Saul, raja pertama, meskipun berbakat dan diterima oleh bangsa Israel, ternyata tidak berkenan pada Tuhan, yang akhirnya menentukan untuk kembali dengan orang yang sesuai dengan pilihan-Nya, yaitu Daud (1Samuel 13: 13-14). Terjadilah situasi yang membingungkan kita, karena ada dua raja yang diurapi. Yang satu berusaha membunuh yang lain karena takut takhtanya direbut. Sepanjang pengejaran Saul atas Daud, Daud menerima bantuan dari berbagai pihak, bahkan dari anak Saul sendiri, Yonatan dan Mikhal.

Beberapa tahun kemudian, karier Saul berakhir dalam pertempuran melawan orang Filistin (1Samuel 31). Daud akhirnya diurapi menjadi raja oleh orang Yahuda (2Samuel 2: 11), kemudian oleh orang Israel sesudah kematian pewaris Saul yang terakhir (2Samuel 5). Dua pengurapan yang berbeda oleh kedua kelompok utama di Israel ini meperlihatkan adanya pertentangan dalam masalah religius dan polotis selama masa kerajaan. Hal ini berlangsung sampai tahun 580 SM, ketika Yerusalem diduduki oleh bangsa Babel.

 

Kebaikan Perantara

Berdasarkan pernyataan Samuel bahwa Saul tidak mentaati perintah Tuhan dalam ay. 18, pengarang mulai bermain dengan kata “taat”. Ketika wanita itu melihat Saul rebah ke tanah karena lemah, ia mengingatkan bahwa sampai sejauh ini ia taat kepadanya (ay. 21). Maka, sebaliknya, Saul harus taat kepada dia (ay. 22), ketika ia mendesak mau menghidangkan makanan. Karena teman-teman Saul mendesak, ia taat (ay. 23), dan ia dipestakan dengan menyembelih anak lembu tambun (bdk. Lukas 15: 23, 27). Itu merupakan perjamuan terakhir makan Saul sebelum ia meninggal dalam pertempuran keesokan harinya.

 

Pertanyaan untuk Digumuli:

Saul harus mati karena ia tidak taat kepada Tuhan. Sudahkah persekutuan kita mencerminkan persekutuan dengan Tuhan?

 


 

AGUSTUS II

Bacaan: I Tesalonika 5: 1-11
Tema Liturgis: Tekun bergumul firman Tuhan dan melakukannya dalam   kehidupan
Tujuan PA: Semakin Memampukan Warga Untuk  MerealisasikanFirman Tuhan, Dalam Pembangunan Kehidupan Gereja.

 

Pengantar
“… Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan,..” 11a.

Surat 1 Tesalonika ini ditulis oleh Paulus saat Paulus berada di Korintus,  6 bulan setelah meninggalkan Tesalonika karena kehadirannya dipermasalahkan oleh komunitas Yahudi di sana. Surat ini merupakan tanggapan untuk Timotius ketika Timotius mengabarkan hasil perkunjungannya ke jemaat Tesalonika. Timotius mengabarkan bahwa sepeninggal Paulus, Jemaat Tesalonika tetap eksis, tumbuh berkembang dalam iman yang semakin kuat dalam Kristus.

Isi surat tsb juga mengandung nasihat agar Jemaat Tesalonika tetap hidup secara sadar, dalam iman dan kasih dan pengharapan. Ayat 8 menyebutkan: Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang,   baiklah kita sadar, berbaju zirahkan   iman dan kasih, dan berketopongkan   pengharapan keselamatan:

SIANG HARI: Pada siang hari orang melakukan aktifitas sehari-hari, sedang pada malam hari orang tidur terlelap,seperti orang yang sedang mabuk, yang tidak dapat bekerja memenuhi tanggung jawabnya dengan baik. Mereka yang adalah orang-orang siang atau orang-orang yang sadar harus membangun karakteristik Kristiani, dalam iman, kasih dan pengharapan, sebaik yang dapat mereka lakukan.

Kata SADAR artinya “kesiagaan”, “penguasaan diri”, yaitu sadar akan ketetapan Allah dan menguasai diri. Ini seperti halnya seseorang yang tidak minum anggur yang mengandung alkohol.

BAJU ZIRAH berfungsi untuk menutupi organ-organ vital dari seorang prajurit (jantung, paru-paru, hati, dsb.), memakai baju zirah prajurit akan terlindungi dan aman, bahkan akan meningkatkan rasa  percaya diri  dan keberanian untuk maju dalam pertempuran.

KETOPONG  adalah topi dari baja dikenakan oleh prajurit berfunsi melindungi kepala seorang dalam medan pertempuran.Demikian Paulus memandang Jemaat di Tesalonika dengan penuh bangga dan syukur.

Di GKJW, banyak pula jemaat yang sadar jati dirinya sebagai anak-anak siang. Salah  satunya adalah jemaat Peniwen yang pernah menjadi tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu kisahnya bisa kita lihat di salah satu monumen di Peniwen. Dirangkum dari berbagai sumber, monumen tersebut dikisahkan sbb:

Sebagian kita mungkin sudah tahu tentang Monumen Peniwen Affair dan catatan sejarah Palang Merah di Malang. Monumen Peniwen Affair berada di ujung Desa Peniwen,Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, tidak jauh, dapat ditempuh dengan hanya berjalan kaki dari GKJW Peniwen. Merupakan satu-satunya monumen Palang Merah Remaja (PMR) di Indonesia dan satu dari dua monumen Palang Merah yang diakui secara internasional. Monumen Peniwen didirikan untuk mengenang jasa 12 anggota PMR serta beberapa anggota masyarakat Peniwen yang terbunuh saat agresi militer Belanda kedua pada 19 Februari 1949. Sebagian besar PMR adalah pemuda desa setempat yang saat itu sedang merawat para pasien di RS Panti Husada.

Pembangunan monumen ini diprakarsai oleh Bupati Malang, Edy Slamet.Peresmian Monumen Peniwen Affair oleh Pengurus Besar PMI, Marsekal Muda Dr. Sutojo Sumadimedja pada 10 November 1983. Di lokasi di mana tempat gugurnya 12 korban.

Monumen Peniwen Affair menjadi saksi bisu kekejian penjajah pada era perang kemerdekaan, sekaligus ikut menentukan penghentian Agresi Militer Belanda II di Indonesia. Peristiwanya demikian: pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer II dengan menyerang daerah-daerah yang masih dikuasai Republik Indonesia. Para pejuang yang tergabung dalam TNI dan kelaskaran pun kemudian menyusup ke daerah kantong Belanda dan mengadakan perang gerilya. Sering terjadi kontak senjata antara TNI dan kelaskaran setempat. Pada pertengahan Februari 1949, Belanda mulai memasuki Peniwen dan menghujani Peniwen dengan peluru-peluru dan meriam. Mereka berdalih sedang mencari seorang pemberontak yang disembunyikan di Peniwen.

Tepat tanggal 19 Februari 1949 pukul 2 siang, tentara-tentara KNIL memasuki Rumah Pengobatan Panti Husodho (sekarang digunakan sebagai SD Peniwen), sebuah rumah sakit yang digunakan untuk merawat korban peperangan dan warga yang sakit. Tentara KNIL mengobrak-abrik balai pengobatan PMR dan memaksa semua penghuninya keluar. Selain itu, tentara KNIL merampas obat-obatan serta menghancurkan papan nama PMR. KNIL yang umumnya adalah masyarakat pribumi dalam ketentaraan Belanda, datang untuk memburu anggota gerilyawan, sekaligus menebar teror di Desa Peniwen. Para pelajar yang saat itu bertugas sebagai relawan (sekarang PMR) diperintahkan berjongkok berderet di depan balai pengobatan. Lalu, seluruh tangan mereka diikat dengan kabel dan dirangkai menjadi satu. Namun, karena kurang panjang, kabel tidak bisa mengikat beberapa anggota PMR dan warga. Mereka disuruh berlutut dengan posisi kepala di tanah sambil meletakkan tangan di kepala.

Setelah puas merusak balai pengobatan, para KNIL memisahkan tawanan. Tahanan perempuan yang tak terikat kabel, dibawa menjauh dari tawanan pria. Tahanan wanita tidak dieksekusi, namun diperkosa oleh para KNIL. Para tahanan pria yang tangannya tak diikat kabel, dieksekusi satu persatu dan ditembak dari jarak dekat. Seorang gerilyawan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bernama Kasman, yang masuk dalam barisan yang hendak dieksekusi, berhasil melarikan diri. Namun, dia tertembak di perut dan pelipis. Dalam keadaan sekarat, tentara pelajar ini berlari menuju kediaman Inswihardjo, ayah dari kedua PMR yang gugur.

Peristiwa pembantaian relawan PMR di Desa Peniwen ini memancing reaksi pihak gereja Peniwen yang saat itu sudah berdiri di tengah desa. Lalu DS Martodipuro mengirim surat protes dan keberatan atas pembantaian dan kekejian terhadap warga sipil serta PMR kepada jaringan gereja Jawa Timur. Surat itu juga ditembuskan ke gereja tingkat nasional, serta dunia. Akibat surat protes itu, Belanda menjadikan gereja sebagai sasaran. Setelah peristiwa 19 Februari 1949, Belanda mengerahkan kekuatan artilerinya, untuk membombardir Peniwen, khususnya gereja. Belanda yang saat itu mulai ditekan oleh dunia internasional, menghantam desa dan gereja dengan peluru-peluru artileri. Konon, ada sembilan peluru artileri yang diarahkan kepada gereja. Namun, pihak Belanda gagal ‘membalas dendam’ pada Ds Martodipuro yang menjadi tokoh utama pengirim surat protes kepada masyarakat internasional atas kejahatan perang yang terjadi di Peniwen. Seluruh peluru artileri meleset hanya mengenai area belakang gereja.

Beberapa waktu setelah surat protes dari gereja soal pembantaian PMR diberitahukan kepada masyarakat internasional, Belanda makin berang. Dimulailah propaganda sekaligus pembelokan opini lewat media-media lokal Malang saat itu. Belanda mempropagandakan bahwa telah terjadi tembak menembak antara pihak Belanda dengan gerilyawan. Padahal, kenyataannya Belanda membunuh anggota Palang Merah secara kejam. Begitu surat yang menceritakan pembantaian PMR ini terdengar hingga pelosok dunia, kecaman datang dari negara-negara luar negeri. Surat ini membuat Peniwen dan Indonesia mendapat dukungan dari Perancis, Swiss, Argentina, Jerman hingga Inggris. Negara-negara dunia menekan dan memaksa Belanda untuk menghentikan agresinya. Dalam konvensi Jenewa tahun 1949, anggota Palang Merah masuk dalam kategori yang tak boleh diserang. Maka dapat dikatakan bahwa Belanda melanggar konvensi dan secara resmi telah melakukan kejahatan perang. Setelah peristiwa ini, Belanda sedikit demi sedikit mulai mundur dari wilayah Peniwen. Belanda akhirnya menandatangani Perjanjian Roem-Royen pada Mei 1949. Perjanjian inilah yang mengakhiri agresi militer kedua Belanda ke Indonesia.

Untuk mengenang kejadian itu, warga bersama Palang Merah Indonesia mendirikan sebuah monumen yang dinamakan Monumen Peniwen Affair. Mereka yang meninggal dalam tragedi tersebut kini dimakamkan tepat di depan monumen. Dan untuk menghargai jasa mereka, setiap malam tanggal 19 Februari selalu dilaksanakan serangkaian apel suci yang diikuti oleh warga, relawan dan anggota Palang Merah lainnya. Begitu juga pada setiap malam tanggal 16 Agustus, warga Desa Peniwen berkumpul di monumen Peniwen Affair untuk mengheningkan cipta mengingat perjuangan ketika Belanda menyerang Desa Peniwen tahun 1949. (ngalam.id/read/4044/monumen-peniwen-affair/)

Jemaat Gkjw Peniwen bersama DS Martodipuro,  pada waktu lampau tepatnya pada masa agresi Belanda ke 2, secara konkrit telah mengambil bagian dengan turut berjuang untuk kemerdekaan negeri kita tercinta Indonesia, dan tidak diragukan walau hanya dari desa terpencil karsa yang dilakukannya itu, pada akhirnya di dengar oleh dunia internasional, dan Belanda akhirnya menandatangani Perjanjian Roem-Royen pada Mei 1949. Perjanjian inilah yang mengakhiri agresi militer kedua Belanda ke Indonesia.

Jemaat yang mengasihi Kristus…tidak hanya Jemaat di Tesalonika yang dapat membangun kehidupan berjemaat yang berkualitas di dalam iman percayanya kepada Kristus, tetapi GKJW Peniwen juga telah menjadi salah satu contoh di masa lampau, tentang bagaimana mereka memberkakukan secara nyata panggilan Tuhan, dalam realisasi kehidupan sehari hari. Di mana pada saat itu mereka dalam konteks perang kemardekaan.

Gereja sampai masa sekarang dan yang akan datang sebagai anggota Tubuh Kristus dipanggil untuk membangun kehidupannya dalam situasi dan kondisi yang ada.Hari Pembangunan GKJW pada tahun 2018 ini juga mengingatkan dan memanggil kita untuk turut berkarya membangun kehidupan ini: keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara.

Kehidupan GKJW bagaimanapun juga situasinya, ia terus berlangsung mengarah kepada masa depan, tiada kata berhenti berproses menuju  masa depan. Kerinduan untuk mengalami kemajuan, kemakmuran, dan sekaligus juga menjadi berkat Keselamatan dan sukacita bagi masyarakat dan bangsa Indonesia masih belum maksimal tercapai oleh gereja kita.  Ayat 9-10 menyebut: “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka  ,   tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.” Sudah semestinya kita meneguhkan komitmen awal kita sebagai gereja  untuk terus berkarya, melanjutkan pembangunan yang sudah dilakukan baik oleh para sesepuh GKJW di masa yang lalu maupun yang kini sedang kita perjuangkan. “… Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan,..” (ayat 11a).

Pokok Bahasan

  1. Jemaat di Tesalonika dan GKJW Peniwen (di masa lampau), telah tumbuh mengambil bagian merealisasikan kehendak Allah memenuhi panggilan mereka sebagai gereja, sehingga kehadiran gereja membawa manfaat bagi pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Sebagaimana contoh dalam Pengantar PA.
    Bagaimana dengan kehidupan gereja  kita dewasa ini, sudahkah kita tumbuh berkembang merealisasikan panggilanNya? Berikanlah penjelasan konkrit.
  2. Membangun kehidupan bergereja, adalah juga membangun masyarakat. Menurut Saudara apa saja dan bagaimana mengatasi gap/garis pemisah antara gereja dan masyarakat, dengan harapan agar apa yang dilakukan oleh gereja menjadi bagian dari pembangunan masyarakat juga?

 

 

Bagikan Entri Ini: